Mengapa Harus Generasi Terbaik?
Written by Andita SB   
Monday, 14 April 2008
 
Ketika anda tanyakan kepada Ahmadiyyah yang jelas-jelas sesat apa dasar beragama mereka? Dengan kompak akan kita temui jawaban al-Qur’an dan as-Sunnah. Lantas di mana letak permasalahannya, bukankah al-Qur’an dan as-Sunnah yang menjadi pegangan? Maka, inilah masalahnya.
 
Syaikh Abdul Malik al-Jazairi dalam Sittu Durar min Ushul Ahlil Atsar mengatakan, “…tatkala pemahaman manusia berbeda satu dengan yang lain atau tidak seragam dalam terhadap al-Qur’an dan as-Sunnah, ada yang benar dan ada pula yang cacat dan salah, maka dibutuhkan suatu jalan keluar demi mengantisipasi bahkan menghilangkan perbedaan pandangan atau perselisihan.”

Bila demikian bagaimana solusinya? Tak ada jalan lain kecuali memahami al-Qur’an dan as-Sunnah menurut pemahaman terbaik dari umat ini, yaitu pemahaman para salafush-shalih atau para shahabat ridwanullah jami’an. Surat al-Fatihah sendiri menyebutkan dengan sangat indah, ihdinash-shiraathal mustaqiim, tunjukilah kami kepada jalan yang lurus.

Ayat yang sangat indah ini, memuat kedua rukun al-Qur’an dan as-Sunnah sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, shiraatal ladziina an’am ta ‘alaihim, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka.

Siapa mereka? Allah subhanahu wa ta’ala telah menyebutkannya dalam surat an-Nisaa’ ayat 69, “Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang telah dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu Nabi-Nabi, pra shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shalih, dan mereka itulah teman sebaik-baiknya.”

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Madarijus Salikin Juz 1 hal. 13 mengatakan, “Renungkanlah rahasia yang sangat indah tatkala Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan sebab sekaligus balasan bagi ketiga golongan (seperti disebutkan dalam surat al-Fatihah ayat terakhir), dalam satu pernyataan yang sangat ringkas dan padat bahwasanya anugerah yang diberikan kepada hamba-hamba yang pantas mendapatkannya adalah mencakup nikmat hidayah berupa ilmu yang bermanfaat dan amal shalih.”

Ibnul Qayyim rahimahullah melanjutkan, “Siapa saja yang lebih mengetahui kebenaran serta paling mengikutinya, maka ia lebih pantas untuk mendapatkan ash-shiraathal mustaqiim. Tak diragukan lagi, jika para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang Allah subhanahu wa ta’ala telah meridhai mereka semuanya adalah hamba-hamba yang paling pantas mendapat anugerah ini dibandingkan golongan Rawafidh (Syi’ah dan para pencela dan pencaci shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam). Karena itu para ‘ulama salaf menafsirkan bahwa yang memperoleh atau yang senantiasa berada di atas ash-shiraathal mustaqiim adalah Abu Bakar, Umar, serta shahabat-shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain.”

Keterangan Ibnul Qayyim rahimahullah di atas merupakan pernyataan tegas dan tekstual, bahwasanya yang paling mulia dan utama di antara hamba Allah subhanahu wa ta’ala yang telah mendapat nikmat dan ilmu serta amal dari-Nya adalah shahabat-shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah hamba-hamba yang menyaksikan langsung turunnya ayat-ayat al-Qur’an dan mereka menyaksikan langsung petunjuk Rasul yang mulia dalam memahami al-Qur’an.

Seperti disinyalir oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu diriwayatkan Ibnu Abdil Barr dalam Jaami’ul Bayaan Juz 1 no. 97, “Barangsiapa di antara kalian yang ingin mengambil sunnah, maka hendaklah ia mengambil sunnah dari mereka yang telah wafat, karena sesungguhnya orang yang masih hidup tidak akan aman dari fitnah. Orang-orang yang telah wafat ini adalah para shahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka itu adalah generasi terbaik dari umat ini, generasi paling bersih hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit takallufnya (membuat atau mengadakan sesuatu). Mereka adalah kaum yang telah dipilih oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk menemani Nabi-Nya serta menegakkan agama-Nya. Karena itu, pahami keutamaan dan kemuliaan mereka, ikuti mereka dalam setiap atsar mereka, berpegang teguhlah kepada akhlaq dan agama mereka semampu kalian, karena sesungguhnya mereka itu berada di atas petunjuk yang lurus.”

Lebih lanjut kata Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu seperti diriwayatkan oleh Imam Ahmad Juz 1 no. 39, “Sesungguhnya Allah memandang kepada para hati hamba-Nya maka Ia mendapati Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang paling baik hatinya, maka Allah pun memilihnya untuk diri-Nya lalu mengutus dengan membawa risalah-Nya. Setelah itu Allah kembali memandang kepada para hamba-Nya yang lain, lalu Ia mendapati para shahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang paling baik hatinya setelah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu Ia pun menjadikan mereka sebagai pembantu Nabi-Nya. Mereka berperang di atas agama-Nya, maka apa yang menurut para shahabat sebagai sesuatu yang baik maka sesuatu itu baik pula di sisi Allah dan apa yang menurut mereka sebagai sesuatu yang buruk maka buruk pula di sisi Allah.”

Karena itu, untuk menjawab perbedaan yang ada tak ada jalan lain kecuali merujuk kepada pemahaman yang sama, yaitu mengikuti pemahaman generasi terbaik dari umat ini, yaitu salafush-shalih. “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah…” (QS. at-Taubah : 100)

Batasan generasi salaf seperti disebutkan dalam hadits Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, “Sebaik-baik manusia adalah yang hidup di jamanku, kemudian orang-orang yang hidup setelah mereka, kemudian orang-orang yang hidup setelah mereka. Setelah itu datanglah suatu kaum yang kesaksian salah seorang di antara mereka mendahului sumpah mereka dan sumpah mereka mendahului kesaksian mereka.” (HR. Bukhari, Muslim)

Hal inipun diperkuat dengan fiman Allah subhanahu wa ta’ala dalam surat an-Nisa’ ayat 115, “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.”

Menurut Syaikh Abdul Malik Ramadhan al-Jazairi, disejajarkannya tindakan mengambil jalan yang bukan jalan orang-orang yang beriman dengan tindakan menentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena itu ia berhak mendapat hukum yang sama, yaitu merasakan siksa yang amat pedih seperti yang disebutkan oleh ayat tersebut di atas. Padahal sebenarnya lanjut Syaikh Abdul Malik, tindakan menentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah cukup untuk mendapat kerugian yang besar.

“Sesungguhnya orang-orang kafir dan (yang) menghalangi manusia dari jalan Allah serta memusuhi Rasul setelah petunjuk itu jelas bagi mereka, mereka tidak dapat memberi mudharat kepada Allah sedikitpun. dan Allah akan menghapuskan (pahala) amal-amal mereka.” (QS. Muhammad : 32)

Sedangkan dalil dari as-Sunnah diantaranya diriwayatkan oleh Abdullah bin Luhay dari Mu’awiyyah bin Abu Sufyan, “Ketahuilah bahwasanya umat sebelum kalin (ahli kitab) terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan dan sesungguhnya umat ini akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan; tujuh puluh dua golongan berada dalam neraka dan yang satunya lagi yang berada di surga, yaitu al-Jama’ah.” (HR. Abu Dawud)

Syahid dalam hadits di atas kata Syaikh Abdul Malik adalah diistilahkannya golongan yang selamat (al-Firqatun Najiyyah) dengan sebutan al-Jama’ah serta tidak disebutkannya kaitan jama’ah dengan al-Qur’an dan as-Sunnah, padahal mereka tidak mungkin terlepas dari keduanya. Akan tetapi rahasianya, lanjut Syaikh Abdul Malik adalah untuk mengingatkan kita bahwasanya jama’ah atau golongan yang dimaksud adalah jama’ah yang memahami al-Qur’an dan as-Sunnah serta mengamalkannya sesuai dengan yang dikehendaki Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak ada jama’ah pada waktu itu kecuali shahabat-shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Jika demikian ketika perbedaan pendapat dalam berbagai hal terjadi seperti pada jaman sekarang, maka satu-satunya jalan keluar yang harus ditempuh adalah kembali kepada al-Qur’an dan as-Sunnah menurut pemahaman terbaik dari umat ini yang secara jelas dan nyata telah dijamin oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam surat at-Taubah ayat 100.

Atau seperti yang diungkapkan oleh al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam I’lamul Muwaqqi’in juz 1 no. 49, “Seandainya di dalam al-Qur’an maupun as-Sunnah tidak ada penjelasan mengenai hukum dari perbedaan atau perselisihan ini dan seandainya pula penjelasan ini tidak cukup, maka tidak mungkin kita diperintahkan untuk kembali kepada keduanya, karena tidak mungkin dan tidak masuk akal jika Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kita ketika terjadi perselisihan pendapat untuk kembali kepada sesuatu atau seseorang yang tidak memiliki jalan keluar dari perselisihan tersebut.”

Kini saat yang tepat kita kembali kepada pemahaman yang lurus. Sudahkah kita kembali kepada pemahaman generasi terbaik dari umat ini dalam memahami al-Qur’an dan as-Sunnah?
 
Comments
Add New Search
Rifki   |221.132.231.xxx |2008-04-16 04:35:22
subhanallah..., jazakumullah khairan katsira.

semoga ini bisa menjadi
pembelajaran bagi kita semua dan bisa menumbuhkan kesadaran dalam beragama
kita..
Rahmatulloh   |125.167.122.xxx |2008-08-27 07:46:40
Subhanalloh.

Alhamdulillah. Sudah saatnya umat islam kembali kepada
pemahaman salafus sholih (Pemahaman yang Lurus) yaitu Al-Qur'an
dan As-Sunnah. Agar menjadi generasi terbaik dalam umat ini disisi
Alloh Subhanahu Wata'ala.

Amin, Ya Roobal 'Alamin.
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Last Updated ( Wednesday, 23 April 2008 )