Sobat Muda

NOTE: To use the advanced features of this site you need javascript turned on.

Home arrow Akhlak arrow Adikku, Hapuslah Air Matamu

Pengumuman

  • Diperbolehkan bagi temen-temen untuk mengutip seluruh isi artikel di dalam situs ini untuk tujuan kebaikan dan WAJIB untuk mencantumkan NAMA PENULIS dan SUMBERNYA.
  • Bagi yang mengisi comment ataupun guestbook, diharuskan mencantumkan nama dan identitas. Jika tidak maka comment kamu akan saya delete tanpa konfirmasi.
  • Bagi yang mengisi comment ataupun guestbook, cukup mengisi sekali saja. Karena setiap comment harus dimoderasi, jadi nggak ditampilkan terlebih dahulu.
  • Buat teman-teman yang ingin buat blog sendiri, kami juga menawarkan Hosting Gratis. So, buat yang pengen apply, silahkan pelajari lebih lanjut dengan membuka menu : Hosting Gratis pada menu di atas/

Mutiara 'Ilmu

Dari Asad, dia berkata: "Jika Syadad bin Aus akan merebahkan tubuhnya diatas pembaringan, maka tingkahnya seperti sebutir biji yang diletakkan diatas wajan penggorengan. Dia berkata: 'Ya Allah, seseungguhnya bayangan neraka membuatku susah tidur.' Akhirnya ia kembali bangkit dari tempat tidur untuk kemudian mengerjakan shalat sunnah." (Shifatush Shafwah I/709)
 
Adikku, Hapuslah Air Matamu PDF Print E-mail
User Rating: / 0
PoorBest 
Written by Didit Fitriawan   
Sunday, 22 June 2008
 
Tanggal 13-14 Juni kemarin adalah sebuah tanggal yang bagi adik - adik siswa SMA se-Indonesia sangat mendebarkan. Ya, pada tanggal tersebut hasil Ujian Akhir Nasional yang mereka laksanakan bulan Mei kemarin akan diumumkan oleh Pemerintah melalui sekolah masing – masing. Tentunya akan ada dua keputusan yang mau atau tidak harus diterima oleh adik–adik SMA tersebut. Tertawa bahagia dengan kelulusannya atau harus menangis dengan ketidaklulusannya. Selanjutnya…

Hal ini selalu menjadi dilema tersendiri tentunya, baik bagi guru sekolah maupun siswa. Bagaimana tidak…??? Pembelajaran yang berlangsung selama tiga tahun, ternyata hanya ditentukan oleh tiga hari saja. Dan bagaimana tidak menjadi buah simalakama…??? Pihak guru dan sekolah  selama tiga tahun telah mendidik dan mengajar siswa yang berarti juga mereka adalah elemen paling mengenal siapa saja siswa yang harus diluluskan dan mana yang tak layak untuk diluluskan. Namun mereka seakan tidak berkutik untuk meluluskan para siswanya sendiri. Sedangkan pihak pengelola ujian nasional yang notabene tidak tahu menahu tentang siswa, justru mereka memiliki kewenangan mutlak untuk meluluskan siswa.

Tulisan ini tak hendak menentang kebijakan pemerintah melalui depdiknas-nya, karena memang wajib bagi kita untuk taat pada mereka walaupun harus pahit bagi kita. Nabi yang mulia Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah berpesan pada kita:

“ Dengar dan taatilah pemerintah baik dalam kesulitan mapun dalam kemudahan, dalam keadaan gembira maupun tidak suka, walapun mereka bersikap sewenang – wenang padamu, walaupun mereka memakan hartamu dan memukul punggungmu.

Nabi yang mulia Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga telah berpesan pada kita:

“ Barangsiapa yang melihat hal – hal pada pemimpinnya sesuatu yang tidak dia suka, maka hendaknya dia tetap bersabar.”

( HR. Ibnu Abi ‘Ashim no. 1101)

Bahkan, seorang muslim yang baik hendaknya selalu mendoakan pemerintah agar mereka diberikan Allah hidayah sehingga tidak berbuat dzalim lagi pada rakyatnya.

Namun, tulisan ini ditujukan pada tingkah pola adik – adik SMA dalam menyikapi kelulusan dan ketidaklulusan mereka. Bagi siswa yang lulus, banyak diantara mereka yang mengekspresikannya dengan pawai keliling kota dan corat coret seragam sekolahnya. Sedangkan bagi siswa yang tidak lulus, secara naluriah pasti mereka akan menangis sedih, ada juga yang menangis histeris dan yang paling mengkhawatirkan adalah ekspresi dengan membunuh diri…(na’udzubillahi min dzaliik…)

Kita semua tahu bahwa dunia ini adalah ujian bagi setiap insan. Allah ‘azza wa jalla berfirman:

“ …kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada kami-lah kamu akan dikembalikan.” (QS. Al Anbiya’ : 35)

Imam Ibnu Zaid –rahimahullah- mengatakan,”Allah menguji mereka dengan perkara yang disenangi dan perkara yang dibenci. Allah akan menguji mereka dengan cobaan ini agar tahu, siapa diantara mereka bersyukur ketika mendapatkan kesenangan dan bersabar ketika mendapatkan musibah.” (Tafsir Ath Thabari, IX/25)

Adik – adikku SMA yang dirahmati oleh Allah semoga seraut tulisan ini bisa meringankan bebanmu walaupun untuk sejenak. Mari bersama kita sadari dan pahami bahwa…

1. Ujian / cobaan ini datangnya dari Allah Ta’ala…

Sang Pencipta berfirman:

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun’.” (QS: Al Baqoroh: 155-156)

Nabi kita yang mulia shollallohu’alaihi wa sallam bersabda, yang artinya, “Ketahuilah, sesungguhnya apabila umat ini seluruhnya berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu maka mereka tidak akan bisa memberi manfaat kecuali yang telah Alloh tetapkan untukmu. Dan apabila mereka berkumpul untuk menimpakan bahaya kepadamu, maka niscaya mereka tidak akan mampu menimpakan kemudhorotan itu kecuali apa yang telah Alloh tetapkan untukmu.” (HR. At Tirmidzi no.2516)

Mari sama – sama kita yakini bahwa ujian ini datangnya dari Allah Ta’ala dan lapangkanlah dada kita dalam menerima takdirnya. Percayalah wahai saudaraku, pasti dibalik itu tersimpan hikmah yang akan membahagiakanmu suatu saat kelak.

2. Hendaknya kita instropeksi diri, bisa saja hal itu terjadi karena dosa dan kesalahan kita sendiri…

Allah ‘azza wa jalla berfirman:

“Dan Kami tidaklah menganiaya mereka tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. “ (QS: Hud: 11)

Jika kita tilik lebih dalam, adanya kegagalan saat ujian atau ketidaklulusan dalam suatu pelajaran mungkin saja itu disebabkan kelalaian kita yang kurang belajar dan tidak mempersiapkannya dengan baik. Maka hendaknya selalu kita koreksi lebih dini diri kita sebelum demikian dan demikian.

3. Tanda cinta dari Sang Penguasa Alam Semesta…

Seorang hamba yang beriman ketika diberi ujian dan cobaan oleh Allah ta’ala, hendaknya dia bersabar pun juga bersyukur. Mengapa bersyukur…??? Karena bisa jadi, cobaan ini adalah bentuk saying dari Ar Rahman. Allah Ta’ala mewahyukan sebuah tuntunan melalui lisan Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya besarnya pahala sebanding dengan besarnya ujian. Bila Alloh suka kepada suatu kaum maka mereka akan diuji. Jika mereka ridho maka Alloh ridho dan bila dia marah maka Alloh pun akan marah padanya.” (HR: Tirmidzi)

4. Menghapuskan Dosa dan Kesalahan…

Rosululloh shollallohu’alaihi wa sallam bersabda, yang artinya, “Tidaklah musibah yang menimpa seorang muslim melainkan Alloh akan menghapus dosanya, sekalipun musibah itu hanya tertusuk duri.” (HR: Bukhori)

Kemudian sabda beliau yang lain, “Ujian akan terus datang kepada seorang mukmin atau mukminah mengenai jasadnya, hartanya, dan anaknya sehingga ia menghadap Alloh tanpa membawa dosa.” (HR: Ahmad dan Tirmidzi)

Seorang ulama’ Muslim berkata, “Kalaulah bukan karena musibah yang menimpa pastilah kita memasuki negeri akhirat sebagai orang-orang yang pailit”.

Jika kita sudah memahami hikmah dari semua ini, maka apa yang harus kita perbuat setelahnya…??? Para ulama’ ahlus sunnah wal jama’ah telah menitipkan nasehat pada kita agar senantiasa…

1. Bersabar dan menerima takdir Allah Yang Maha Kuasa

Allah berfirman, yang artinya, “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun’.” (QS: Al Baqoroh: 155-156)

Kemudian Dia berfirman lagi di tempat yang lain yang artinya, “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (QS: At-Taubah: 51)

2. Bertaubat dari dosa serta tingkah salah yang selama ini dilakukan.

Alloh berfirman, yang artinya, “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS: Al A’rof: 23)

3. Berbaik sangka dan tidak berputus asa terhadap rahmat Allah.

Alloh berfirman yang artinya, “Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (QS: Yusuf: 87)

Dan sebagai penutup dari tulisan ini, maka mari sama – sama kita simak nasehat dari Ummu Salamah –radliyallahu’anha-

“Tidak ada seorang muslim pun yang ditimpa suatu musibah lalu dia mengucapkan apa yang diperintahkan oleh Alloh; ‘inna lillahi wa inna ilaihi roji’un Allohumma ajirni fii mushibati wakhluf lii khoiron minha’, kecuali Alloh akan menggantikan dengan yang lebih baik darinya”. Maka ketika Abu Salamah wafat, aku bergumam, ‘Siapa seorang muslim yang lebih baik dari Abu Salamah? Sebuah keluarga yang pertama kali berhijrah kepada Rosululloh? Namun lalu aku mengucapkannya. Dan Alloh menggantikannya dengan Rosululloh’.” (HR: Muslim)

Semoga tulisan ini bisa menghapus linangan air mata yang telah mengalir…
 
 
---edited---
reason : karena alasan teknis, saya terpaksa harus melakukan perubahan format tulisan. 
Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Last Updated ( Monday, 23 June 2008 )
 
< Prev   Next >