Sobat Muda

NOTE: To use the advanced features of this site you need javascript turned on.

Home arrow Akhlak arrow Panjangkan Sumbumu...!!!

Pengumuman

  • Diperbolehkan bagi temen-temen untuk mengutip seluruh isi artikel di dalam situs ini untuk tujuan kebaikan dan WAJIB untuk mencantumkan NAMA PENULIS dan SUMBERNYA.
  • Bagi yang mengisi comment ataupun guestbook, diharuskan mencantumkan nama dan identitas. Jika tidak maka comment kamu akan saya delete tanpa konfirmasi.
  • Bagi yang mengisi comment ataupun guestbook, cukup mengisi sekali saja. Karena setiap comment harus dimoderasi, jadi nggak ditampilkan terlebih dahulu.
  • Buat teman-teman yang ingin buat blog sendiri, kami juga menawarkan Hosting Gratis. So, buat yang pengen apply, silahkan pelajari lebih lanjut dengan membuka menu : Hosting Gratis pada menu di atas/

Mutiara 'Ilmu

Dari Asad, dia berkata: "Jika Syadad bin Aus akan merebahkan tubuhnya diatas pembaringan, maka tingkahnya seperti sebutir biji yang diletakkan diatas wajan penggorengan. Dia berkata: 'Ya Allah, seseungguhnya bayangan neraka membuatku susah tidur.' Akhirnya ia kembali bangkit dari tempat tidur untuk kemudian mengerjakan shalat sunnah." (Shifatush Shafwah I/709)
 
Panjangkan Sumbumu...!!! PDF Print E-mail
User Rating: / 0
PoorBest 
Written by Andita SB   
Thursday, 05 June 2008
Article Index
Panjangkan Sumbumu...!!!
Page 2

 

Marah dalam Islam

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa seseorang berkata kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam,"Berwasiatlah kepadaku". Beliau bersabda, "Janganlah marah". Kemudian ia berkata lagi, "Berwasiatlah kepadaku". Beliau bersabda, "Janganlah marah". Kemudian ia berkata lagi, "Berwasiatlah kepadaku." Namun, beliau tetap bersabda, "Janganlah marah". (HR. Bukhari)

Mungkin apa yang dinasihatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi sebagian kita tampak begitu sederhana dan sepele. Namun, jika kita mengkaji lebih dalam, sungguh betapa besar perkara tersebut.

Kalo mau jujur, kita bisa lihat di kehidupan sehari-hari bahwa sebagian besar terjadinya tindak pidana pembunuhan dan penganiayaan berawal dari kemarahan yang tidak terkendali. Lihat aja di sebagian besar berita, baik di koran, majalah, radio, sampai tv, ketika para tersangka disidik, hampir tidak pernah kita dapatkan ada yang menganiaya dan membunuh hanya karena iseng saja. Ketika akal yang sehat tertutupi oleh hawa nafsu yang memuncak dan mengalahkan kesadarannya, sehingga dengan tega dan secara keji melakukan penganiayaan dan pembunuhan kepada orang lain bahkan terhadap keluarganya sendiri.

Trus, yang menjadi pertanyaan apakah dalam Islam, marah adalah hal yang tercela secara mutlak? Walhamdulillah, Islam dengan segala keparipurnaannya bersikap seimbang dalam segala hal, termasuk dalam marah. Dalam Islam justru ada marah yang wajib, yaitu marah karena Allah subhanahu wa ta’ala. Bentuk aplikatifnya diantaranya adalah marah ketika ada yang menghina dan melecehkan agama Allah, marah ketika ada yang bermaksiat kepada Allah, marah ketika ada yang menyepelekan sunnah Rasulullah, dan lain sebagainya.

 

Cara Mengendalikan Marah

Berbeda dengan mengendalikan masalah emosi yang lain, seperti kecemasan, kesedihan dan lain-lain, umumnya kita tidak "dididik" untuk mengendalikan emosi marah. Adalah wajar dan dapat dimengerti apabila seseorang mengalami kecemasan dan kesedihan serta bagaimana cara mengatasinya, namun nggak wajar ketika seseorang mengalami kemarahan dan mengekspresikannya, tetapi tidak terdidik untuk mengatasi, mengendalikan dan menyalurkan emosi marah secara konstruktif.

Pada umumnya, kecenderungan orang dalam mengatasi rasa marah ada tiga macam, yaitu mengekspresikan, menekan, dan menenangkannya. Mengekspresikan rasa marah dengan cara yang asertif, bukan agresif adalah cara yang paling sehat dalam mengekspresikan rasa marah. Untuk dapat melakukan hal itu, kita harus belajar untuk mengenali apa yang membuat kita marah, dan bagaimana dapat mengatasinya, tanpa menyakiti orang lain.

Menjadi asertif bukan berarti memaksa atau menuntut orang lain berperilaku tertentu, namun berarti menghormati diri sendiri dan juga menghormati orang lain.

Menekan rasa marah atau menyalurkannya pada hal-hal lain, seperti berolah raga, melakukan kegiatan yang menyenangkan hingga taraf tertentu dapat mengatasi masalah, namun memiliki bahaya. Yaitu kemarahan itu sendiri tidak tersalurkan, sehingga dapat merusak diri sendiri dalam jangka panjang, dan dapat mengakibatkan kecenderungan patologis lain, seperti pasif agresif, sinis dan senang mengkritik orang lain, sehingga cenderung menimbulkan masalah dalam berhubungan dengan orang lain.

Menenangkan diri juga merupakan upaya untuk menekan kemarahan. Namun, bahkan bila hal itu dapat dicapai, hal itu tetap sulit untuk dipertahankan karena kemarahan itu sendiri tidak tersalurkan.

 

Apa yang Harus Dilakukan?

Pada prinsipnya, emosi marah tidak dapat ditekan, dikesampingkan atau diabaikan begitu saja. Semakin berusaha untuk ditekan, semakin hal itu akan mengendalikan perilaku kita dan semakin merusak hubungan kita dengan orang lain. Namun, kita tidak dapat pula menghindari, mengesampingkan atau melenyapkan hal-hal atau orang-orang yang membuat kita marah. Tetapi, kita dapat belajar untuk mengendalikan reaksi terhadap hal-hal tersebut.

Tips-tips di bawah ini adalah mengenai bagaimana kita bisa mengendalikan reaksi kita tersebut dari dalam diri, tanpa mengganggu-gugat faktor eksternal seperti keadaan, situasi, dan orang-orang lain yang secara harafiah tidak dapat kita kendalikan.

Beberapa hal yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut.

1. Mengubah cara pikir.

Belajar mengendalikan reaksi kita berarti mengubah cara berpikir dan memandang hal-hal yang membuat kita marah. Contoh, apabila berhadapan dengan kemacetan, daripada berpikir bahwa hal tersebut merusak seluruh jadual kita hari ini, kita dapat menggantinya dengan pikiran bahwa hal itu memang keterlaluan, tetapi bukan berarti kiamat karena semua orang juga mengalami hal serupa.

2. Berpikir secara proporsional dan dengan perspektif yang benar.

Ingatkan diri kita setiap kali kita marah, bahwa kondisi yang ada atau orang-orang lain tidak selalu bermaksud ingin menyakiti kita. Hal itu akan membantu kita untuk berpikir secara proporsional dan dalam perspektif yang benar. Ingat bahwa kecenderungan internal (seperti mood dan ingatan) kita juga memainkan peranan dalam rasa marah kita.

3. Segala sesuatu bersifat relatif.

Sikap menuntut, memaksa, dan merasa diperlakukan tidak adil atau tidak sepatutnya juga perlu dipandang sebagai sesuatu yang tidak mutlak. Keadilan, kepatutan bersifat sangat relatif, tergantung pada siapa dan dari sudut mana memandangnya. Hal itu perlu dilakukan, agar toleransi kita terhadap hal-hal tersebut bukan lagi suatu masalah.

4. Memahami hal-hal yang "tidak tertulis"

Kadangkala kita perlu memahami hal-hal di balik yang terlihat. Seorang atasan yang berlaku tidak adil mungkin sekali karena ia mendapat tekanan dari atasannya. Seorang yang berlaku tidak sopan dalam mengendarai kendaraannya mungkin sedang terburu waktu.

5. Berdamai dengan diri sendiri.

Pada akhirnya kita harus memaafkan kesalahan dan kekurangan kita sendiri. Adalah manusiawi, bila seseorang tidak dapat menahan rasa marahnya. Bahkan, memendamnya, mengabaikannya merupakan suatu tindakan destruktif yang perlu dihindari. Yang perlu kita lakukan adalah bertindak asertif, tanpa menyakiti hati dan fisik orang lain, serta melampiaskan kepada barang dan benda di sekitar.

 

Terapi ala Islam

Selain tips-tips secara psikologis di atas, Islam pun memiliki terapi yang jauh lebih ampuh untuk mengendalikan rasa marah. Tidak hanya mampu untuk menekannya, namun juga berbuah pahala jika ikhlas melakukannya dan dengan ‘ilmu yang benar. Beberapa diantaranya adalah :

1. Membaca ta’awudz

Dalam keadaan marah, biasanya seseorang akan kehilangan akal sehatnya selama beberapa waktu. Nah, syaithan pun akan berusaha untuk meniupkan bisikan-bisikan jahatnya, sehingga tutur kata dan tindak kita pun akan semakin jauh dari nilai ta’at. Untuk menghindari hal tersebut maka Rasulullah menyarankan kita untuk membaca ta’awudz. Dari shahabat Sulaiman bin Surad radhiyallahu ‘anhu, "Ada dua orang saling mencela di sisi Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dan kami sedang duduk di samping Nabi shalallahu alaihi wa sallam. Salah satu dari keduanya mencela lawannya dengan penuh kemarahan sampai memerah wajahnya. Maka Nabi shalallahu alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya aku akan ajarkan suatu kalimat yang jikalau diucapkan akan hilang apa yang ada padanya. Yaitu sekiranya dia mengucapkan, "A’udzubillahi minasy-syaithanirrajiim." Maka mereka berkata kepada yang marah tadi, "Tidakkah kalian dengar apa yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?" Dia menjawab, "Aku ini bukan orang gila." (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Merubah posisi badan

Apabila dengan bacaan ta’awudz rasa marah masih belum hilangm maka disyari’atkan dengan merubah posisi barang. Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Apabila salah seorang di antara kalian marah dalam keadaan berdiri duduklah, jika belum hilang maka berbaringlah." (HR. Ahmad dan Abu Dawud). Hal ini karena marah dalam berdiri lebih besar kemungkinannya melakukan kejelekan dan kerusakan daripada dalam keadaan duduk. Sedangkan berbaring lebih jauh lagi dari duduk dan berdiri.

3. Lebih baik diam

Dalam sebuah hadits disebutkan, "Apabila di antara kalian marah maka diamlah." Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sebanyak ucapkan tiga kali. (HR. Ahmad)

Diam ketika marah merupakan solusi yang efektif untuk meredakan kemarahan, karena banyak berbicara dalam keadaan marah justru tidak bisa terkontrol sehingga memungkinkan terjatuh pada pembicaraan yang tercela, serta membahayakan dirinya dan orang lain.

4. Berwudhu

Sesungguhnya marah itu dari syaithan dan syaithan itu diciptakan dari api, maka api itu bisa dipadamkan dengan air. Demikian juga kemarahan yang bisa diredakan dengan berwudhu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya marah itu dari syaithan dan syaithan itu diciptakan dari api, dan api itu dipadamkan dengan air. Maka apabila di antara kalian marah, berwudhulah." (HR. Ahmad dan yang lainnya dengan sanad hasan)

Seorang ‘ulama besar yaitu al-Hasan al-Bashri rahimahullah pernah berkata, "Empat hal, barangsiapa yang mampu mengedalikannya maka Allah akan menjaga dari syaithan dan diharamkan dari neraka : yaitu seseorang mampu menguasai nafsunya ketika berkeinginan, cemas, syahwat dan marah."

Kita memang tidak bisa menghilangkan rasa marah. Dan juga bukan ide yang baik untuk menghilangkan rasa marah. Hidup penuh dengan peristiwa-peristiwa yang membuat frustrasi, rasa sakit, dan hal-hal yang tidak dapat diramalkan. Kita tidak dapat mengubahnya, tetapi kita dapat mengubah bagaimana kejadian-kejadian tersebut dapat mempengaruhi kita.

Setelah ini semoga kita bisa menjadi lebih sabar dan bijak dalam bertindak. Ibarat sebuah bom waktu yang terpercik api, semakin pendek sumbunya, maka semakin cepat pula ia meledak. Dan semakin panjang sumbunya, semakin lama pula ia meledak, bahkan ada kemungkinan api tersebut padam di tengah perjalanan.

"Ya Allah, dengan ilmuMu atas yang gaib dan dengan kemahakuasaanMu atas seluruh makhluk, perpanjanglah hidupku, bila Engkau mengetahui bahwa kehidupan selanjutnya lebih baik bagiku. Dan matikan aku dengan segera, bila Engkau mengetahui bahwa kematian lebih baik bagiku. Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepadaMu agar aku takut kepadaMu dalam keadaan sembunyi (sepi) atau ramai. Aku mohon kepadaMu, agar dapat berpegang dengan kalimat hak di waktu rela atau marah. Aku minta kepadaMu, agar aku bisa melaksanakan kesederhanaan dalam keadaan kaya atau fakir, aku mohon kepadaMu agar diberi nikmat yang tidak habis dan aku minta kepadaMu, agar diberi penyejuk mata yang tak putus. Aku mohon kepadaMu agar aku dapat rela setelah qadhaMu (turun pada kehidupanku). Aku mohon kepadaMu kehidupan yang menyenangkan setelah aku meninggal dunia. Aku mohon kepadaMu kenikmatan memandang wajahMu (di Surga), rindu bertemu denganMu tanpa penderitaan yang membahayakan dan fitnah yang menyesatkan. Ya Allah, hiasilah kami dengan keimanan dan jadikanlah kami sebagai penunjuk jalan (lurus) yang memperoleh bimbingan dariMu." (HR. An-Nasai 3/54-55 dan Ahmad 4/364. Dinyatakan oleh al-Albani shahih dalam Shahih an-Nasai 1/281)

 

© diolah dari berbagai sumber

Comments
Add New Search
Rizki  - kalo cuma marah     |221.132.209.xxx |2008-06-06 15:22:02
kalo cuman marah, anak kecil juga bisa!.. kalo udah gede masih marah-marah
gajebo, buat apa umur nambah..
khusaini  - re: kalo cuma marah   |125.162.255.xxx |2008-06-07 23:20:03
daripada marah-marah mending ramah-ramah

yuk...mari...
fathy_aja  - Hmmmmm   |222.124.206.xxx |2008-06-09 01:07:57
yang suka marah angkat tangan..
abi sabiella  - boleh aja marah...   |221.132.229.xxx |2008-06-18 08:02:26
marah boleh aja, tapi proposional lah... kadang2 ada persoalan yg selesainya dgn
marah....
ingat... ketika Rasulullah marah pd istri2 Beliau pasalnya minta
tambahan uang belanja...
ayu   |125.167.122.xxx |2008-08-14 06:39:30
bagus banget
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."



Last Updated ( Monday, 14 July 2008 )
 
< Prev   Next >