Pengumuman
- Diperbolehkan bagi temen-temen untuk mengutip seluruh isi artikel di dalam situs ini untuk tujuan kebaikan dan WAJIB untuk mencantumkan NAMA PENULIS dan SUMBERNYA.
- Bagi yang mengisi comment ataupun guestbook, diharuskan mencantumkan nama dan identitas. Jika tidak maka comment kamu akan saya delete tanpa konfirmasi.
- Bagi yang mengisi comment ataupun guestbook, cukup mengisi sekali saja. Karena setiap comment harus dimoderasi, jadi nggak ditampilkan terlebih dahulu.
- Buat teman-teman yang ingin buat blog sendiri, kami juga menawarkan Hosting Gratis. So, buat yang pengen apply, silahkan pelajari lebih lanjut dengan membuka menu : Hosting Gratis pada menu di atas/
Mutiara 'Ilmu
| al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata: "Mereka berkata, lidah orang bijak ada dibelakang hatinya. Ketika ingin berkata, ia memikirkan dulu di hatinya. Jika perkataan itu baik, ia mengucapkannya dan jika tidak baik, ia menahan lidahnya. Adapun orang bodoh, hatinya di ujung lidahnya di mana lidahnya tidak kembali ke hatinya. Apa yang ada di lidahnya ia ucapkan semuanya." (Tafsir Ibnu Katsir (III/266) |
| Emang Salah Motornya! |
|
|
|
| Written by Rizki Aji | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Monday, 02 June 2008 | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Sepeda motor kini, merupakan jumlah populasi terbanyak di Jakarta, ketika pemerintah daerah tersebut sudah kesulitan mengatasi kemacetan yang semakin runyam dengan tambahan pembangunan disana-sini, maka warga masyarakat pun menjadikan sepeda motor sebagai alternatif pilihan. Bukan hanya para pekerja lho yang pake sepeda motor sebagai alternatif pilihan, tapi para pemuda juga melakukan aksi yang sama dengan motor kesayangannya demi mengajak jalan sang kekasih tercinta. Sepeda motor dirasa lebih aman dibandingkan dengan mobil. Bahkan terlihat lebih privasi dibanding angkot alias angkutan kota. Dengan sepeda motor, kawula muda lebih ekspresif dalam menyalurkan kebolehannya, kebolehan dalam memacu adrenalin agar sang kekasih memeluk erat pinggang saking ngebutnya kendaraan, hingga kebolehan dalam memodifikasi motor agar sokbreker belakang lebih tinggi sehingga sang kekasih pujaan bisa lebih erat dalam mendekap atau ibaratnya tubuhnya yang mbonceng dengan pembonceng lebih menyatu dan menempel semua anggota tubuhnya, atau kebolehan mengeraskan suara dengan menjebol knalpot motor biar makin sangar dan gahar agar suara sepasang merpati yang diatas motor tak terdengar ketika berbicara rahasia. Itulah realita dan sulit untuk menutup mata, salah motornya memang kenapa didesain seperti itu. Tak ada yang salah dengan orangnya, karena memarahi orangnya pun bakalan percuma dan sia-sia. Lebih baik menyalahkan motor, sebab jika motor dimarahi. Ia tidak akan membantah perkataan yang memarahi, tetapi motor akan tetap diam seribu bahasa tanpa melawan. Berbeda dengan manusia, mereka selalu berusaha untuk membantah perlakuan yang diberikan jika ia tidak bersedia dituduh dengan hal semacam itu. Bahkan terkadang akan lebih ngeyel dibanding yang menasehatinya. Banyak alasan yang berbeda, pada awalnya mereka yang masih berseragam dibelikan kendaraan oleh ortunya adalah untuk kebaikan. Agar dapat lebih cepat sampai ke tempat menuntut pendidikan. Fasilitas telah disediakan oleh ortu dengan sangat memadai, tapi tak jarang fasilitas tersebut disalah gunakan. Karena godaan dengan janji kenikmatan lebih banyak dan enak dibandingkan dengan pengabdian yang seharusnya diberikan. Itulah dilema kota besar, satu sisi masyarakat serempak berkata menolak kenaikan harga, tapi disisi lain jarang yang berfikir bahwa anak-anak mereka lebih berada di ujung bahaya ketimbang menggerutu kenaikan harga. Membawa pergi anak orang lain kesana-kemari. Mengitari bumi layaknya tak pernah tahu kata henti. Sebentar singgah di sebuah rumah makan dengan dana subsidi ortu, besok malam jalan ke Mall hanya untuk sekedar ngadem di ruangan AC karena dirumahnya hanya memiliki kipas angin, pekan depan ngatur janji buat wakuncar nonton bioskop. Dan akhirnya terjadilah perbuatan tanpa disadari tak dikehendaki. Jadi, jangan salahkan orangnya tapi salahkan motornya. Sebab dengan adanya motor para pemuda yang sedang mabuk cinta bebas melanglang buana. Asal tahu kawan bahwasanya jembatan fly over pun di tiap malam kini jadi ajang pacaran! Susah memang untuk melarang tapi akan sangat sulit lagi untuk mengekang. Para pemuda-pemudi layaknya jagoan yang harus bebas, mereka bukan anak kecil lagi. Sekalipun kini anak kecil usia SD pun sudah bisa bawa motor sendiri.
Salah motornya bukan salah orangnya!
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Last Updated ( Wednesday, 04 June 2008 ) | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| < Prev | Next > |
|---|







orang