Pengumuman
- Diperbolehkan bagi temen-temen untuk mengutip seluruh isi artikel di dalam situs ini untuk tujuan kebaikan dan WAJIB untuk mencantumkan NAMA PENULIS dan SUMBERNYA.
- Bagi yang mengisi comment ataupun guestbook, diharuskan mencantumkan nama dan identitas. Jika tidak maka comment kamu akan saya delete tanpa konfirmasi.
- Bagi yang mengisi comment ataupun guestbook, cukup mengisi sekali saja. Karena setiap comment harus dimoderasi, jadi nggak ditampilkan terlebih dahulu.
- Buat teman-teman yang ingin buat blog sendiri, kami juga menawarkan Hosting Gratis. So, buat yang pengen apply, silahkan pelajari lebih lanjut dengan membuka menu : Hosting Gratis pada menu di atas/
Mutiara 'Ilmu
| Ibrahim berkata, aku pernah bertanya kepada Fudhail bin Iyadh: "Apa rendah hati itu?" Ia menjawab: "Tunduk dan patuh kepada kebenaran. Walaupun engkau mendengarnya dari seorang anak kecil, engkau tetap harus menerima kebenaran itu. Walaupun engkau mendengarnya dari orang yang paling bodoh, engkau harus menerima kebenaran itu juga." Lalu aku bertanya kepadanya: "Apa arti sabar terhadap musibah itu?" Ia menjawab: "Tidak menyebarluaskannya." (Hilyatul Auliyaa 8/91) |
| Jangan Jadi Selebritis! |
|
|
|
| Written by Rizki Aji | |
| Tuesday, 06 May 2008 | |
|
Jangan berfikir bahwa menjadi selebritis itu enak!, justru lebih banyak gak enaknya dibandingin enaknya. Jika kita melihat bahwa menjadi seleb itu penuh dengan kecukupan atas segala hal, eiiitss tunggu dulu... pandangan seperti ini mesti ditinjau ulang lagi. Karena bukan adanya sebuah istilah atau ungkapan seleb juga manusia tapi lebih dari itu. Dan kamu mesti tw kalo yang enak-enak itu belum tentu benar melainkan hanya sekedar pembenaran. Sebagai contoh seorang penyanyi yang sedang naik daun dengan dijejali banyak penghargaan disebabkan lagunya digemari banyak pihak bahkan menyebabkan sang penyanyi atau kelompok musik tersebut mendapatkan penghargaan atas penjualan albumnya yang menembus 3 juta copy. Sebuah prestasi mencengangkan bagi mereka yang mengaku insan permusikan. Tapi siapa tahu dalam hatinya mereka dirundung kebosanan dengan aktifitas yang itu-itu aja dari satu panggung ke panggung. Mereka diwajibkan untuk membawakan lagu yang sama dimanapun berada. Sementara lirik dan baitnya hafal diluar kepala, alunan musiknya pun sama dengan yang kemarin. Kehidupannya telah diatur oleh manager dan tuntutannya ialah membuat senang para penggemar, tak peduli apakah si penyanyi atau awak band tersebut senang atau tidak. Bagi para penjual, kepuasan pelanggan adalah segalanya apapun yang terjadi. Musik memang berbeda dengan Al Qur’an teman!. Jika musik diulang terus-menerus maka akan muncul kebosanan, tetapi Al Qur’an jika diulang sampai kapanpun akan memunculkan rasa ketenangan dalam jiwa. Jadi bohong kalo ada orang yang bilang “musik anu, atau lagu ini, atau liriknya bikin tenang kepala dan menentramkan hati...” sebab apa yang mereka katakan sekalipun dibalut dengan istilah ‘easy listening’ tetep aja itu ketenangan dan ketentraman yang semu. Wajar aja jika jaman sekarang seseorang lebih doyan buat gonta-ganti selera musiknya. Jika ada lagu yang lebih asyik lagi maka lagu yang kemaren dihafal dan didendangkan akan dilupakan dan berganti lagu baru yang kembali dibilang “lagunya megang banget and pas ma gw....lagunya gw bangeeeeettttsss!”. Nah itu baru di kancah blantika musik, bagaimana dengan sinetron atau panggung sandiwara lainnya yang penuh dengan kedustaan dan spik-spik (pura-pura) aja? Jelas lebih membosankan lagi, karena setiap hari sang bintang harus menyesuaikan jadwalnya demi ambisi dan obsesinya di dunia fana ini. Seleb dipaksa menjadi orang lain yang bertentangan dengan karakter dirinya yang sebenarnya, belum lagi ia menghadapi masa-masa disaat lingkungan syuting dengan setting yang sama, lawan main yang sama, dan muka kru yang itu-itu aja dalam jangka waktu yang cukup mubazir alias lama. Nunggu take pemain lainnya yang penuh dengan kebosanan dan jangan heran jika banyak seleb yang mengisi kebosanan waktunya dengan even cinlok atawa cinta menclok eh cinta lokasi maksudnya. Jadi sebaiknya kalo kamu mw jadi seleb, dipikir mateng-mateng dulu deh bahkan sampe gosong biar perfect apa yang diharapkan. Jadi seleb tuh gak enak! Penuh dengan kebosanan dan menjemukan, udah gitu dijaman sekarang persaingan semakin banyak buat jadi seleb (mending jadi orang bener teman, coz persaingan jadi orang bener sekarang lumayan gampang, apalagi semenjak menjamurnya aliran sesat. Kalo kamu bisa berada di jalan bener, beuh mantebh dah itu ridha Allah dunia akhirat buat kamu, apalagi kerelaan ortu –ortu mana sih yg kagak demen kalo anaknya jadi bener sekaligus jempolan!-). Dari mulai ajang pencarian bakat sampe penipuan yang ditawari production house ilegal nan kacangan. Kalo dah tw, begitu tak enaknya jadi terkenal karena membuat area privasi seseorang gak nyaman lagi penuh kedustaan mending gak usah. Lebih banyak madharatnya daripada maslahatnya! Terkenal sedikit langsung digosipin beginilah-begitulah, resiko? Hei.... ini bukan resiko kawan ini merupakan fitnah. Kok bisa-bisaan fitnah dibilang resiko! Padahal seorang muslim diwajibkan untuk menjauhi diri dari fitnah. So, bakalan membingungkan menjadi seorang seleb coz segala kelakuannya diliat ma orang banyak sehingga jadilah para seleb itu orang-orang yang menghias-hiasi perbuatan sehari-harinya hanya untuk menjaga pamor biar gak turun dan popularitasnya tak merosot. Sungguh para selebritas telah berhasil meletakkan noda kemunafikan di dalam diri masing-masing. Lantas masihkah terfikirkan menjadi seleb jika imbasnya adalah menjadi orang-orang yang apes bin bangkrut di akhirat kelak. Berlari dari kemunafikan itu mulia! Sedangkan jadi seleb itu gak enak! Ketahuilah kawan, jadi seleb sama sekali bukanlah pilihan. Bahkan untuk dijadikan jalan hidup pun sangat jauh panggang dari api. Jangan kau biarkan pintu-pintu kemudharatan itu menambah sebab datangnya kemurkaan dari Rabbmu. Tinggalkanlah teman, tinggalkan.. |
|
| Last Updated ( Tuesday, 06 May 2008 ) |
| < Prev | Next > |
|---|








orang