Pengumuman
- Diperbolehkan bagi temen-temen untuk mengutip seluruh isi artikel di dalam situs ini untuk tujuan kebaikan dan WAJIB untuk mencantumkan NAMA PENULIS dan SUMBERNYA.
- Bagi yang mengisi comment ataupun guestbook, diharuskan mencantumkan nama dan identitas. Jika tidak maka comment kamu akan saya delete tanpa konfirmasi.
- Bagi yang mengisi comment ataupun guestbook, cukup mengisi sekali saja. Karena setiap comment harus dimoderasi, jadi nggak ditampilkan terlebih dahulu.
- Buat teman-teman yang ingin buat blog sendiri, kami juga menawarkan Hosting Gratis. So, buat yang pengen apply, silahkan pelajari lebih lanjut dengan membuka menu : Hosting Gratis pada menu di atas/
Mutiara 'Ilmu
|
Sufyan ats-Tsauri berkata: "Sesungguhnya ilmu itu dicari untuk menunjang ketakwaan kepada Allah. Karena itulah ia memiliki keutamaan. Jika tidak ada hal itu, maka ia sama seperti yang lainnya." (Hilyatul Auliyaa 6/362) |
| Catatan 1 |
|
|
|
| Written by Andita SB | |||||||||||||||||||||||||||||||
| Thursday, 17 April 2008 | |||||||||||||||||||||||||||||||
|
Kubuka jendela di pagi hari. Kupandangi langit yang luas tak berbatas. Kuraba hati, kembali. Mencoba mengais apa yang tersisa dari perjalanan kalam batin, enam bulan terakhir ini. Betapa susahnya menyelami hati yang seluas langit itu. Hati pun punya ruangan tak terbatas. Segalanya menjadi satu dalam sebuah medan, menggumpal dan berdesakan lalu meletuplah aneka rasa. Gelisah, kesendirian, kesunyian, duka, lara, hampa, derita, bahagia, kangen, rindu, cinta, dan segala macam istilah; menggores cerita tak habis-habis. Berderai tak ubahnya mata langit yang meneteskan hujan. Masih sama, kalam batin ini tetap saja menjadi kutipan sejarah tentang seorang dirimu yang telah meniupkan nafas baru dalam perjalanan lelahku. Selama berbulan-bulan, kubertahan dengan menikmati apapun yang menjadi luapan hati, mencari-cari sedalam apa luapan itu menjelma menjadi tiga kata: gelisah, rindu, dan cinta. Meski menyiksa dan tetap memunculkan seribu tanya, tetap saja aku bersikukuh menjaganya dalam-dalam. Pagi membawa pesan-pesan baru dari semesta. Udara yang diam begitu indah menghadirkan bola matahari dengan kemuning sinarnya. Untung di teras rumah, ada dua batang pohon rindang yang menahan gerak laju teriknya. Semilir angin yang datang pun, terasa begitu menyejukkan. Benarkah pagi selalu menjadi tonggak baru dari sebuah awal yang indah atau sebaliknya? Aku teringat kampung halamanku yang masih hijau dipayungi pepohonan dan sawah-sawah yang membentang. Udara yang cerah dan segar selalu kuhirup dalam-dalam. Burung-burung di pepohonan menyambut pagiku dengan nyanyian merdu. Tetesan embun yang membasahi daun-daun dan aneka bunga, mencipta lukisan keindahan sesungguhnya. Embun yang bening, membasuh daun dan bunga yang tengah mekar itu. Begitukah wajahmu ketika menangis karena bahagia? Ah, aku mencatat lagi wajah itu di setiap pagiku. Membayangkan dia hadir dengan pesona alaminya. Dia yang terbangun dari lelap semalaman dan kudapati matanya masih lebam karena buaian mimpi. Tersenyum dan kukecup keningnya. Andai dia ada, pagi ini. Pagiku dulu dan pagiku kini, tak ada bedanya. Hanya ruang dan waktu yang membuatnya jadi sedikit berbeda. Pagiku kini pun kuarungi dengan gulungan cerita demi cerita yang setiap saat selalu membentuk gugusan baru. Pagiku pun tak ada capainya memotret kisah rindu dan cinta yang kubangun dan kujaga untukmu seorang. Siapa yang memulai kisah itu? Yang pasti, akulah orangnya. Tapi aku pun tak pernah memaksa memulainya, semua berjalan tanpa rencana. Setaip kubuka jendela dan kulihat matahari di pagi hari, selalu ada getarmu yang hinggap. Hingga rasanya tak mungkin aku mengakhiri kisah itu. Hatiku telah terengut habis hingga ke akar-akarnya. Lewat kata-kata yang luruh di atas ratusan kertas putih, aku menumpahkan segumpal kisah itu. Ratusan kertas itu tak hanya aku yang membacanya, tapi kini menjadi milik massa. Tiap inci kata yang kutulis untukmu, kini menjadi kisah yang dibaca banyak mata. Kisah itu menjadi lukisan sejarah yang terpatri dalam ingatan ratusankepala bahkan ribuan. Setiap tatap mata, setiap denyut di kepala, melukiskannya dengan beragam persepsi dan pemaknaan. Bagaimana mungkin aku akan mengakhiri kisah itu sementara pencarianku masih berjalan. Meski tangan ini mulai tertatih menulis tentangmu, kisah ini belum juga menemui titik pengakhirannya. Kalau kini kembali aku menuliskan kisah itu, tak lain bersumber dari perjalanan pencarianku yang semakin menemui catatan-catatan baru tentangmu. Masih saja gelisah, rindu, dan cinta ini menengahi langit dengan aneka warna, mengecup kebisuan, membungkam cakrawala dengan sejuta tanya, tanpa jawab. Ternyata, masih banyak cerita yang tertinggal dan tapak-tapak baru yang menjejak tegas dalam lelahnya pengembaraanku. Dalam kisah itu, tertulis kenangan yang luruh di langit dan di bumi. Aku ingin terus mencatat setiap detik kutipan cerita yang tertoreh, tanpa terkecuali. Terlau indah melewatkan setiap gelisah yang hadir, setiap rindu yang mengetuk-ngetuk di balik temaram senja dan setiap cinta yang mengalir di hentakan nafas. Kenangan itu mungkin saja hanya ilusi atau bahkan mimpi belaka. Aku tak peduli. Aku akan terus menjaring mimpi. Mimpi menjadi milikmu, yang setia selamanya berada dalam payung mata beningmu. Rebah dan terbaring manja di permadani hatimu, tersenyum dan menangis di sudut bibirmu, mengabdi pada cintamu, satu. Aku tak berdaya untuk menghapus apapun tentangmu. Aku tetap dan akan selalu menikmati semua yang ada padamu. Mungkin warasku telah menemui titik ketiadaannya. Tapi biarkan saja, semua itu tak akan mengubah apapun. Sebaris waktu bersamamu menjadi pahatan terindah dalam perjalanan hidupku. Dan itu membuatmu menjadi bidadariku, seutuh-utuhnya, segala-galanya. Aku terlanjur sakau akanmu. Sesakau inginku untuk mengakhiri kisah ini dengan pengakhiran yang membahagiakan. Itulah mimpiku. Pilihan tetaplah sebuah piihan. Seperti juga aku ingin memilih pengakhiran yang membahagiakan untuk menjadi titik muara dari kesakauanku. Biarlah sakau ini terus menguntit di jejak hari-hariku, menggeser tiap inci logika nalarku. Aku rela dan akan tetap menjaganya seperti janji pepohonan yang setia selamanya meneduhi alam. (catatan kesepian)
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
|||||||||||||||||||||||||||||||
| Last Updated ( Wednesday, 23 April 2008 ) | |||||||||||||||||||||||||||||||
| < Prev |
|---|







