Sobat Muda

NOTE: To use the advanced features of this site you need javascript turned on.

Home arrow Manhaj arrow Mengapa Harus Generasi Terbaik?

Pengumuman

  • Diperbolehkan bagi temen-temen untuk mengutip seluruh isi artikel di dalam situs ini untuk tujuan kebaikan dan WAJIB untuk mencantumkan NAMA PENULIS dan SUMBERNYA.
  • Bagi yang mengisi comment ataupun guestbook, diharuskan mencantumkan nama dan identitas. Jika tidak maka comment kamu akan saya delete tanpa konfirmasi.
  • Bagi yang mengisi comment ataupun guestbook, cukup mengisi sekali saja. Karena setiap comment harus dimoderasi, jadi nggak ditampilkan terlebih dahulu.
  • Buat teman-teman yang ingin buat blog sendiri, kami juga menawarkan Hosting Gratis. So, buat yang pengen apply, silahkan pelajari lebih lanjut dengan membuka menu : Hosting Gratis pada menu di atas/

Mutiara 'Ilmu

asy-Syaikh Yahya bin Ali al-Hajuri berkata: "Di sebagian negara, ada di antara mereka yang memberikan kepada orang-orang yang sakit berupa hiburan-hiburan, baik itu dengan musik-musik di rumah sakit, atau televisi, atau permainan untuk menghibur mereka, dan ini demi Allah adalah kemudharatan bagi seseorang dan tidak bermanfaat bagi orang-orang yang sehat, tidak pula bagi orang yang sakit. Tidak boleh tolong-menolong dalam perkara dosa dan permusuhan, tidak bersama orang yang sehat dan tidak pula bersama orang yang sakit." (Berbahagialah Muslim Yang Sakit, penerjemah Abu Umar Urwah & Abu Muhammad Farhan, hal. 68. Tasjilat al-Ilmu Yogyakarta)
 
Mengapa Harus Generasi Terbaik? PDF Print E-mail
User Rating: / 2
PoorBest 
Written by Andita SB   
Monday, 14 April 2008
Article Index
Mengapa Harus Generasi Terbaik?
Page 2
 
Ketika anda tanyakan kepada Ahmadiyyah yang jelas-jelas sesat apa dasar beragama mereka? Dengan kompak akan kita temui jawaban al-Qur’an dan as-Sunnah. Lantas di mana letak permasalahannya, bukankah al-Qur’an dan as-Sunnah yang menjadi pegangan? Maka, inilah masalahnya.
 
Syaikh Abdul Malik al-Jazairi dalam Sittu Durar min Ushul Ahlil Atsar mengatakan, “…tatkala pemahaman manusia berbeda satu dengan yang lain atau tidak seragam dalam terhadap al-Qur’an dan as-Sunnah, ada yang benar dan ada pula yang cacat dan salah, maka dibutuhkan suatu jalan keluar demi mengantisipasi bahkan menghilangkan perbedaan pandangan atau perselisihan.”

Bila demikian bagaimana solusinya? Tak ada jalan lain kecuali memahami al-Qur’an dan as-Sunnah menurut pemahaman terbaik dari umat ini, yaitu pemahaman para salafush-shalih atau para shahabat ridwanullah jami’an. Surat al-Fatihah sendiri menyebutkan dengan sangat indah, ihdinash-shiraathal mustaqiim, tunjukilah kami kepada jalan yang lurus.

Ayat yang sangat indah ini, memuat kedua rukun al-Qur’an dan as-Sunnah sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, shiraatal ladziina an’am ta ‘alaihim, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka.

Siapa mereka? Allah subhanahu wa ta’ala telah menyebutkannya dalam surat an-Nisaa’ ayat 69, “Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang telah dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu Nabi-Nabi, pra shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shalih, dan mereka itulah teman sebaik-baiknya.”

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Madarijus Salikin Juz 1 hal. 13 mengatakan, “Renungkanlah rahasia yang sangat indah tatkala Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan sebab sekaligus balasan bagi ketiga golongan (seperti disebutkan dalam surat al-Fatihah ayat terakhir), dalam satu pernyataan yang sangat ringkas dan padat bahwasanya anugerah yang diberikan kepada hamba-hamba yang pantas mendapatkannya adalah mencakup nikmat hidayah berupa ilmu yang bermanfaat dan amal shalih.”

Ibnul Qayyim rahimahullah melanjutkan, “Siapa saja yang lebih mengetahui kebenaran serta paling mengikutinya, maka ia lebih pantas untuk mendapatkan ash-shiraathal mustaqiim. Tak diragukan lagi, jika para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang Allah subhanahu wa ta’ala telah meridhai mereka semuanya adalah hamba-hamba yang paling pantas mendapat anugerah ini dibandingkan golongan Rawafidh (Syi’ah dan para pencela dan pencaci shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam). Karena itu para ‘ulama salaf menafsirkan bahwa yang memperoleh atau yang senantiasa berada di atas ash-shiraathal mustaqiim adalah Abu Bakar, Umar, serta shahabat-shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain.”

Keterangan Ibnul Qayyim rahimahullah di atas merupakan pernyataan tegas dan tekstual, bahwasanya yang paling mulia dan utama di antara hamba Allah subhanahu wa ta’ala yang telah mendapat nikmat dan ilmu serta amal dari-Nya adalah shahabat-shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah hamba-hamba yang menyaksikan langsung turunnya ayat-ayat al-Qur’an dan mereka menyaksikan langsung petunjuk Rasul yang mulia dalam memahami al-Qur’an.

Seperti disinyalir oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu diriwayatkan Ibnu Abdil Barr dalam Jaami’ul Bayaan Juz 1 no. 97, “Barangsiapa di antara kalian yang ingin mengambil sunnah, maka hendaklah ia mengambil sunnah dari mereka yang telah wafat, karena sesungguhnya orang yang masih hidup tidak akan aman dari fitnah. Orang-orang yang telah wafat ini adalah para shahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka itu adalah generasi terbaik dari umat ini, generasi paling bersih hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit takallufnya (membuat atau mengadakan sesuatu). Mereka adalah kaum yang telah dipilih oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk menemani Nabi-Nya serta menegakkan agama-Nya. Karena itu, pahami keutamaan dan kemuliaan mereka, ikuti mereka dalam setiap atsar mereka, berpegang teguhlah kepada akhlaq dan agama mereka semampu kalian, karena sesungguhnya mereka itu berada di atas petunjuk yang lurus.”

Lebih lanjut kata Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu seperti diriwayatkan oleh Imam Ahmad Juz 1 no. 39, “Sesungguhnya Allah memandang kepada para hati hamba-Nya maka Ia mendapati Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang paling baik hatinya, maka Allah pun memilihnya untuk diri-Nya lalu mengutus dengan membawa risalah-Nya. Setelah itu Allah kembali memandang kepada para hamba-Nya yang lain, lalu Ia mendapati para shahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang paling baik hatinya setelah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu Ia pun menjadikan mereka sebagai pembantu Nabi-Nya. Mereka berperang di atas agama-Nya, maka apa yang menurut para shahabat sebagai sesuatu yang baik maka sesuatu itu baik pula di sisi Allah dan apa yang menurut mereka sebagai sesuatu yang buruk maka buruk pula di sisi Allah.”


Last Updated ( Wednesday, 23 April 2008 )
 
< Prev   Next >