Pengumuman
- Diperbolehkan bagi temen-temen untuk mengutip seluruh isi artikel di dalam situs ini untuk tujuan kebaikan dan WAJIB untuk mencantumkan NAMA PENULIS dan SUMBERNYA.
- Bagi yang mengisi comment ataupun guestbook, diharuskan mencantumkan nama dan identitas. Jika tidak maka comment kamu akan saya delete tanpa konfirmasi.
- Bagi yang mengisi comment ataupun guestbook, cukup mengisi sekali saja. Karena setiap comment harus dimoderasi, jadi nggak ditampilkan terlebih dahulu.
- Buat teman-teman yang ingin buat blog sendiri, kami juga menawarkan Hosting Gratis. So, buat yang pengen apply, silahkan pelajari lebih lanjut dengan membuka menu : Hosting Gratis pada menu di atas/
Mutiara 'Ilmu
| Dari Asad, dia berkata: "Jika Syadad bin Aus akan merebahkan tubuhnya diatas pembaringan, maka tingkahnya seperti sebutir biji yang diletakkan diatas wajan penggorengan. Dia berkata: 'Ya Allah, seseungguhnya bayangan neraka membuatku susah tidur.' Akhirnya ia kembali bangkit dari tempat tidur untuk kemudian mengerjakan shalat sunnah." (Shifatush Shafwah I/709) |
Kalender
|
| Parameter Kebenaran |
|
|
|
| Written by Andita SB | ||||
| Saturday, 05 April 2008 | ||||
Page 1 of 2
Di antara fenomena yang merebak akhir-akhir ini adalah kebiasaan berdalih dengan pendapat mayoritas sebagai parameter kebenaran serta berdalih minoritas sebagai parameter kebathilan. Tidak itu saja, mereka pun berdalih pendapat nenek moyang tanpa meneliti sandarannya. Bahkan mereka menjadikan pendapat ‘Orang-Orang Kuat’ sebagai parameter kebenaran. Juga, mereka berdalih bahwa yang dianut orang-orang miskin itu bukan kebenaran. Malah tak sedikit di antara mereka yang mengikuti para ‘ulama fasik dan ahli ibadah yang jahil. Dan bukan hal yang aneh mereka pun menuduh ahli agama memiliki pemahaman yang sempit. Pendapat yang dianut oleh mayoritas mereka adalah kebenaran dan yang dianut oleh minoritas bukanlah kebenaran. Pendapat ini tentu saja tidak dapat dipertanggungjawabkan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang-orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan-Nya.” (QS. al-An’am : 116) Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman, “…tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. al-A’raf : 187). “Dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka memenuhi janji. Sesungguhnya Kami mendapati kebanyakan mereka orang-orang yang fasik.” (QS. al-A’raf : 102) Dan banyak lagi ayat yang lain. Barometer yang benar bukanlah karena mayoritas dan minoritas, namun kebenaran itu sendiri. Siapapun yang berada di dalam kebenaran, meskipun ia seorang diri, mka dialah yang benar dan dialah yang harus diikuti. Kalau mayoritas manusia dalam kebathilan, maka harus ditolak dan tidak boleh terperdaya karenanya. Yang menjadi sandaran adalah kebenaran. Oleh sebab itu para ulama berkata, “Kebenaran itu tidak bisa dikenali dengan manusia, namun justru manusia itu dikenali dengan kebenaran.” Siapapun yang berada dalam kebenaran, maka dia yang wajib diikuti. Allah subhanahu wa ta’ala –ketika menceritakan umat-umat yang ada- memberitahukan bahwa minoritas seringkali berada dalam kebenaran, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Dan tidaklah beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit…” (QS. Hud : 40) Sementara dalam hadits disebutkan bahwa umat-umat yang ada diperlihatkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau melihat seorang Nabi disertai dengan beberapa orang pengikut. Lalu Nabi yang disertai satu atau dua pengikut saja. Lalu Nabi yang tidak disertai seorang pengikut pun. Yang menjadi ukuran bukanlah mayoritas pengikut terhadap suatu mazhab atau pendapat, namun yang menjadi ukuran adalah apakah pendapat itu benar atau salah. Setiap yang benar, meskipun dianut oleh minoritas masyarakat atau bahkan tidak ada penganutnya sekalipun, jika itu memang kebenaran, tetap harus dipegang teguh, karena itulah keselamatan. Sebaliknya, setiap yang bathil tidak bisa dianggap benar meskipun mayoritas manusia mendukungnya. Itulah barometer yang harus dimiliki oleh setiap muslim selamanya. Nabi pernah bersabda, “Islam itu muncul sebagai agama yang asing, dan suatu saat akan kembali asing sebagaimana pertama kali muncul.” (HR. Muslim no. 146) Yakni ketika telah merata kejahatan, bencana dan kesesatan. Sehingga yang tersisa dalam kebenaran hanyalah segelintir orang yang dianggap asing, hanya beberapa gelintir yang menyendiri dari suku-suku yang ada sehingga mereka menjadi orang-orang yang asing di tengah masyarakat manusia. Ukuran kebenaran bukanlah pendapat mayoritas. Namun ukurannya adalah kebenaran dan yang haq. Memang benar, jika banyak manusia berada dalam kebenaran, itu satu hal yang baik. Namun, berdasarkan sunnatullah yang banyak justru berada dalam kebathilan. “Dan sebagian besar manusia tidak akan beriman, walaupun kamu sangat menginginkannya.” (QS. Yusuf : 3)
Nenek Moyang Ketika datang para Rasul membawa kebenaran, mereka membantah dengan pendapat nenek moyang mereka. Ketika Nabi Musa ‘alaihissalaam mengajak Fir’aun untuk beriman, Fir’aun beralasan dengan orang-orang terdahulu, yakni mereka yang telah lebuh dahulu menjadi orang-orang kafir. Itu adalah alasan salah dan argumentasi keliru, begitu pula dengan jawaban kaum Nuh u ketika didakwahi untuk beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Mereka berkata, “Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, yang bermaksud hendak menjadi seorang yang lebih tinggi dari kamu. Dan kalau Allah menghendaki, tentu Dia mengutus beberapa orang malaikat. Belum pernah Kami mendengar (seruan yang seperti) ini pada masa nenek moyang Kami yang dahulu.” (QS. al-Mukminun : 24) Mereka menjawab ajakan Nuh u dengan pendapat nenek moyang merekalah yang benar, sedangkan yang diajarkan oleh Nabi Nuh adalah kebathilan karena berlawanan dengan ajaran nenek moyang mereka. Orang-orang kafir Quraisy berkata, “Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir. Ini (mengesakan Allah), tidak lain hanyalah (dusta) yang diada-adakan.” (QS. Shaad : 7). |
||||
| Last Updated ( Wednesday, 23 April 2008 ) | ||||
| < Prev | Next > |
|---|








orang




