Sobat Muda

NOTE: To use the advanced features of this site you need javascript turned on.

Home arrow Manhaj arrow Mereka adalah Shahabat

Pengumuman

  • Diperbolehkan bagi temen-temen untuk mengutip seluruh isi artikel di dalam situs ini untuk tujuan kebaikan dan WAJIB untuk mencantumkan NAMA PENULIS dan SUMBERNYA.
  • Bagi yang mengisi comment ataupun guestbook, diharuskan mencantumkan nama dan identitas. Jika tidak maka comment kamu akan saya delete tanpa konfirmasi.
  • Bagi yang mengisi comment ataupun guestbook, cukup mengisi sekali saja. Karena setiap comment harus dimoderasi, jadi nggak ditampilkan terlebih dahulu.
  • Buat teman-teman yang ingin buat blog sendiri, kami juga menawarkan Hosting Gratis. So, buat yang pengen apply, silahkan pelajari lebih lanjut dengan membuka menu : Hosting Gratis pada menu di atas/

Mutiara 'Ilmu

al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata: "Mereka berkata, lidah orang bijak ada dibelakang hatinya. Ketika ingin berkata, ia memikirkan dulu di hatinya. Jika perkataan itu baik, ia mengucapkannya dan jika tidak baik, ia menahan lidahnya. Adapun orang bodoh, hatinya di ujung lidahnya di mana lidahnya tidak kembali ke hatinya. Apa yang ada di lidahnya ia ucapkan semuanya." (Tafsir Ibnu Katsir (III/266)
 
Mereka adalah Shahabat PDF Print E-mail
User Rating: / 1
PoorBest 
Written by Andita SB   
Saturday, 05 April 2008

 

“Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari orang-orang Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah subhanahu wa ta’ala ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dan Allah subhanahu wa ta’ala menyediakan bagi mereka Surga-Surga yang mengalir sungai-sungai didalamnya, mereka kekal didalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. at-Taubah :100)

Kita sering mendengar istilah ‘shahabat’ disebutkan dalam al-Qur’an maupun hadits. Hanya saja banyak yang belum tahu siapa saja yang didefinisikan sebagai shahabat. Hingga tak jarang terjadi kesalahpahaman bahkan berburuk sangka terhadap para shahabat yang mulia.

Apa Itu Shahabat

Menurut Ibnu Atsir, shahabat adalah orang Islam yang bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, meskipun masa bertemu beliau tidak lama dan tidak meriwayatkan satu hadits pun dari beliau. Pengertian ini menurutnya adalah pengertian yang dibawakan oleh mayoritas ‘ulama terdahulu dan belakangan.

Perkataan Ibnu Atsir ini dilengkapi oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani. Ia mengatakan shahabat adalah orang yang berjumpa dengan Nabi dalam keadaan beriman dan wafat dalam keadaan Islam. Masuk dalam pengertian ini adalah orang yang bertemu Nabi, baik lama maupu sebentar, baik meriwayatkan hadits ataupun tidak, baik ikut berperang ataupun tidak.

Ibnu Hajar juga menyebut shahabat kepada orang yang pernah melihat melihat beliau walau tidak duduk dalam majelis Nabi, atau orang yang tidak pernah melihat beliau karena buta. Masuk dalam definisi ini pula orang yang murtad kemudian kembali lagi pada Islam dan wafat dalam keadaan Islam.

Sedangkan orang yang bertemu Nabi dalam keadaan kafir meskipun ia masuk Islam sesudah Nabi wafat tidak dikatakan sebagai shahabat. Demikian pula orang yang beriman kepada Nabi Isa dari ahli kitab namun tidak beriman kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seseorang yang beriman kepada beliau namun murtad dan mati dalam keadaan murtad juga tidak dikatakan sebagai shahabat. Orang munafik pun tidak dikatakan sebagai seorang shahabat walau mereka bergaul dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.


Keutamaan Shahabat

Sebaik-baik manusia setelah Nabi dan para Rasul Allah adalah para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah manusia-manusia pilihan yang telah menyampaikan risalah Islamiyyah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ummatnya secara sempurna. Tak berkhianat dan senantiasa kukuh beramanat.

Para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang yang telah mendapat keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala. Mereka telah berjuang bersama Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menegakkan dan mendakwahkan Islam ke berbagai pelosok negeri. Perjuangan mereka dalam menegakkan kalimat Allah subhanahu wa ta’ala telah banyak menelan harta dan jiwa. Mereka adalah manusia yang sepenuhnya tunduk kepada Islam, tujuan mereka hanya mendapat keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala dan Surga-Nya.

Tipe dan corak kehidupan masyarakan Islam terwujud dalam kehidupan mereka sehari-hari. Hidup mereka dilandasi iman, cinta kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan mereka selalu berjalan pada prinsip-prinsip yang digariskan Allah subhanahu wa ta’ala. Dalam al-Qur’an pun banyak disebutkan sifat-sifat para shahabat. Mereka dikatakan sebagai orang-orang yang benar-benar beriman (QS. at-Taubah : 74), mengikuti jalan yang lurus (QS. 49 : 7), Mendapat kemenangan (QS. 9 : 20), orang-orang yang benar (QS. 9 : 119), bertaqwa (QS. 48 : 26), orang yang menjengkelkan orang-orang kafir da benci terhadap kekafiran (Qs. 48 : 29), dan sifat-sifat baik lainnya yang terdapat dalam al-Qur’an.

 

Tak Boleh Mencela Shahabat

Keadilan para shahabat telah diyakini oleh umat Islam dari masa lalu sampai saat ini. Oleh merekalah, Islam yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebar ke seluruh pelosok negeri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang seseorang mencaci shahabat-shahabatnya.

Dari Abu Sa’id al-Khudri ia berkata: Telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jangan kalian mencaci maki para shahabatku, karena seandainya salah seorang dari kalian berinfak emas sebanyak gunung Uhud, tak akan dapat menyamai derajat satu Mud mereka, bahkan separuhnya.” (HR. Bukhari (4), Muslim (7:188), Ahmad (3:11), Abu Dawud (4658), dan Tirmidzi (3952))

Bila seseorang mencela shahabat, maka ia telah mencela al-Qur’an dan Sunnah. Hal itu dikarenakan merekalah yang pertama kali menerima risalah Islam yang bersumber dari al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Membicarakan sikap dan kedudukan shahabat dan mengkritiknya berarti mengkritik al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Meragukan keadilan mereka berarti meragukan kesaksian dan pujian Allah subhanahu wa ta’ala serta pujian Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada mereka.


 

Sumber :

Majalah as-Sunnah 12/I/1415

Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Last Updated ( Wednesday, 23 April 2008 )
 
< Prev