Pengumuman
- Diperbolehkan bagi temen-temen untuk mengutip seluruh isi artikel di dalam situs ini untuk tujuan kebaikan dan WAJIB untuk mencantumkan NAMA PENULIS dan SUMBERNYA.
- Bagi yang mengisi comment ataupun guestbook, diharuskan mencantumkan nama dan identitas. Jika tidak maka comment kamu akan saya delete tanpa konfirmasi.
- Bagi yang mengisi comment ataupun guestbook, cukup mengisi sekali saja. Karena setiap comment harus dimoderasi, jadi nggak ditampilkan terlebih dahulu.
- Buat teman-teman yang ingin buat blog sendiri, kami juga menawarkan Hosting Gratis. So, buat yang pengen apply, silahkan pelajari lebih lanjut dengan membuka menu : Hosting Gratis pada menu di atas/
Mutiara 'Ilmu
| al-Hasan al-Bashri berkata: "Wahai Bani Adam, sesungguhnya kamu itu adalah ibarat rangkaian hari-hari. Jika sehari berlalu maka sebagian dari umurmu juga hilang." (Siyar A'lam an-Nubala' IV/585) |
Kalender
|
| Esok, Keadaan Kita Lebih Bahagia |
|
|
|
| Written by Andita SB | |
| Thursday, 27 March 2008 | |
|
Terkadang berbagai peristiwa pahit dalam hidup meninggalkan bekas kegetiran yang mendalam, hingga seakan-akan menembus ruas-ruas tulang rusuk. Akibatnya segala harapan dan cita berubah menjadi mata air yang kering tak mampu menyiram jiwa dengan berbagai inspirasi dan semangat berkreasi, apalagi harus membersihkan luka yang teramat pahit itu. Semua yang kita rasakan ibarat angina yang kering pula, tidak memberi kepada kita kecuali sekadar tiupan angin yang dingin, kaku disertai debu. Dan kata-kata bagaikan pisau meskipun seandainya tidak membunuh, tetapi ia menakutkan, lalu apakah karenanya kita membuka diri untuk setiap penghina dan pencela?
Bersikap ridha kepada al-Qadar merupakan rukun dari beberapa rukun yang tegak berdiri di atas keimanan kita kepada Allah, dan ia pun merupakan suatu sikap yang harus ada pada saat terjadinya taqdir baik dan buruk, maka sesungguhnya bersikap sabar itu adalah wajib dan lebih dituntut lagi setelah datangnya ketentuan taqdir tersebut. al-Hasan al-Bashri mengatakan, “Bersikap ridha itu adalah suatu kemuliaan, namun kesabaran itu adalah sandarannya seorang mukmin.” Terlebih bila dia ingat pahala orang-orang yang bersabar di sisi Allah. Sesuai dengan perkataan Ibrahim at-Tamimi, ”Tidaklah seorang hamba yang telah Allah berikan orang kepadanya kesabaran atas penyakit, bala dan musibah, melainkan ia sebenarnya telah mendapatkan yang lebih utama dari yang telah didapatkan oleh seseorang setelah keimanannya kepada Allah.” Ummu Darda menambahkan, ”Sesungguhnya orang-orang yang ridha dengan keputusan Allah adalah orang-orang yang bila diputuskan sesuatu oleh Allah mereka ridha akan keputusan tersebut. Maka di Surga kelak mereka akan mendapat rumah-rumah yang diidam-idamkan oleh para syuhada pada hari Kiamat.” Sabar itu bagaikan investasi di Surga sebagaimana dikatakan oleh al-Hasan al-Bashri, ”Tidaklah Allah memberikannya kecuali kepada orang yang Allah muliakan di atas kesabaran.” Syuraih al-Qadhi berkata, ”Sesungguhnya aku tertimpa satu musibah, maka aku memuji Allah atas musbiah tersebut sebanyak empat kali. Pertama, aku memuji Allah karena musibah tersebut tidak terjadi lebih besar dari keadaannya. Kedua, aku memuji-Nya karena telah menganugerahiku kesabaran atas musibah. Ketiga, aku memuji-Nya karena Dia telah taufiq kapadaku untuk sadar bahwa segala masalah dan persoalan akan dikembalikan kepada-Nya. Keempat, aku memuji-Nya karena Allah tidak menjadikan musibah tersebut ada pada urusan agamaku.” Dalam Shahihain ada sebuah riwayat dari Rasulullah bahwa beliau bersabda, ”Tidaklah menimpa seorang mukmin berupa keletihan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, dan kesulitan hingga duri yang menusuknya kecuali Allah akan menghapuskan dosa-dosanya.” Adakah perkara yang dapat menyamai kesabaran dalam memberikan pengaruh yang mulia kepada pelakunya baik di dunia maupun di akhirat? Maka cukuplah bagi mereka bahwa Allah telah menjanjikan kepada mereka dengan sesuatu yang tidak diberikan kepada selain mereka. Juga Allah telah menyediakan bagi mereka kedudukan yang tidak diberikan kepada selain mereka. ”Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. az-Zumar : 10) Janganlah kita lupa, bahwa Allah mencintai keadilan dan memang Dia Yang Maha Adil di antara yang adil. Apakah sama di sisi-Nya antara orang yang hidupnya senang –harapan dan keinginannya- selalu terwujud dengan seorang mukmin yang hidupnya penuh derita dengan senantiasa menghadapi pahit getir dan kerasnya kehidupan. Mungkin saja kesenangan itu terbunuh dalam hati kita dan panasnya api kehidupan telah membakar hangus harapan kita. Sementara bagi orang lain telah terwujud berbagai cita-cita, harapan dan kebahagiaan yang didambakan oleh mereka. Namun bagi kita, dengan kesabaran, keimanan dan rasa percaya kita dan bergantung hanya kepada Allah, mungkin kehidupan kita esok hari jauh lebih baik dan lebih bahagia. Kebahagiaan hakiki dan kekal abadi, tidak akan hangus oleh kobaran api kehidupan atau porak poranda ditiup angin dunia. Kemudian, apabila kehidupan di sekitar kita selalu berjalan buruk, apakah dengan serta merta kita turut berlaku buruk? Dengan menampakkan wajah yang masam dan tidak mau tersenyum, seolah-olah kita ingin memperlihatkan kepada orang bahwa kita sedang dirundung derita. Masih banyak sebenarnya di sekitar kehidupan ini, jiwa-jiwa yang dirundung derita dan penyakit fisik yang lebih parah dari yang kita rasakan. Namun tetap saja kita melihat mereka tersenyum manis dan mampu berbicara dengan kalimat penuh harapan yang menanamkan harapan bagi yang mendengarnya. (Abu Fikri) Sumber : Wa Akhiran Jaa-al Faraj Qashash wa Tajarib Waaqi’iyyah, Syaikh Ahmad bin Salim ba Duwailan |
|
| Last Updated ( Thursday, 12 June 2008 ) |
| < Prev |
|---|







orang




