|
Tabu bila seorang wali mencari jodoh untuk putrinya. Dituding kembali ke eranya Siti Nurbaya lagi. Jadi?
Yang banyak terjadi sekarang adalah seorang remaja putri atau putra mencari jodoh sendiri. Seolah lakon dijodohkan seperti dalam kisah Siti Nurbaya itu sesuatu yang tak musim lagi di kalangan anak muda modern. Kuno, begitu seloroh mereka dengan serius.
Pernah sebuah koran terbitan Jakarta memberitakan tentang sepasang muda-mudi yang masih berumur belasan tahun melakukan hubungan layaknya suami istri dengan ditonton oleh teman-temannya, lengkap dengan pasangannya masing-masing. Apa yang terjadi? Teman-temannya pun mengajak pasangannya masing-masing untuk melakukan hubungan serupa. Mereka memang berpacaran, malah banyak di antara mereka berpacaran masih dalam hitungan jari lamanya. Na’udzubillahi min dzalik…
Entah bagaimana sikap orang tua mereka. Ada yang berdalih mencari identitas diri, “Biarlah, mereka kan masih muda, masih mencari identitas diri,” tutur seorang bapak tanpa merasa berdosa. Ada pula yang aji mumpung, “Mumpung masih muda, berbuatlah sesuka hatimu, asal suka sama suka,” ungkap bapak dua anak yang lain.
Sudah jamak bila kualitas generasi sekarang dan mendatang jeblok. Soalnya, jodoh mereka ditentukan oleh mereka sendiri yang masih hijau tentang kehidupan dan masih ‘kosong’ tentang agama. Bahkan tidak sedikit dan bukan terlalu ekstrim bila kita menuding mereka berzina dalam kemasan pacaran. Betapa tidak? Mana ada yang berpacaran tanpa berdua-duaan, berpegangan tangan, dan malah lebih dari itu berbuat seperti yang dilansir oleh koran ibukota tersebut.
Coba kita bandingkan bila yang mencari jodoh itu walinya, bisa ayah, kakek, paman, kakak kandung, atau malah adik kandung yang mencari jodoh untuk putri, cucu, keponakan, adik atau kakak mereka. Jodoh tak hanya sebatas orang kaya yang punya puluhan mobil sehingga garasi rumahnya tidak cukup. Bukan pula dengan pria yang punya jabatan dengan gaji puluhan juta rupiah.
Contohnya banyak. Satu di antaranya adalah kisah nyata seorang pengusaha yang telah berhasil mencari jodoh untuk putrinya. Hasilnya? Putrinya telah melahirkan seorang tokoh yang namanya hingga hari ini harum semerbak.
Siapa dia? Mubarak, seorang yang bertaqwa lagi shalih. Banyak menghabiskan waktu untuk beribadah, suka berkhalwat dan sangat wara’. Bekerja sebagai tukang kebun di rumah seorang pengusaha Khawarizmi.
Suatu ketika sang tuan, pemilik kebun, datang kepadanya, “Aku ingin buah delima yang manis,” tutur sang tuan. Mubarak pergi ke sebuah pohon dan menghidangkan beberapa buah delima kepadanya. Setelah mencicipi ternyata asam, ia marah kepada Mubarak sambil mengatakan, “Aku meminta yang manis, tapi kenapa engkau menghidangkan yang asam? Ambilkan yang manis,” kata sang tuan. Ia pun pergi dan memetik dari pohon yang lain. Ketika sang tuan mencicipinya masih juga asam, dia pun semakin marah. Hingga ketiga kalinya, ia masih juga merasakannya asam, maka sang tuan tadi bertanya kepadanya, “Apakah engkau tidak mengetahui yang manis dari yang asam?” Mubarak menjawab, “Tidak.” Dia bertanya lagi, “Mengapa demikian?” “Karena aku tidak pernah makan darinya sedikit pun sehingga aku mengetahuinya,” jawab Mubarak. Lalu sang tuan bertanya lagi, “Mengapa engkau tidak memakannya?” Ia menjawab, “Karena engkau tidak mengizinkan untuk memakannya.” Mendengar hal itu, pemilik kebun heran. Dia mencari kebenaran hal itu, ternyata dia benar, sehingga Mubarak menjadi mulia di matanya.
Pemilik kebun tadi mempunyai anak gadis yang sering dilamar orang, maka dia bertanya kepada Mubarak, “Wahai Mubarak, menurutmu kepada siapa wanita ini dinikahkan?” Ia menjawab, “Kaum Jahiliyyah menikahkan karena kedudukan, kaum Yahudi menikahkan karena harta, kaum Nasrani menikahkan karena ketampanan/kecantikan, dan kita umat Islam karena agama.” Akalnya begitu mengagumkan. Sang tuan pun pergi lalu mengabarkan kepada istrinya, “Aku tidak melihat seorang pun untuk putriku selain Mubarak.” Akhirnya, dia menikahkah putrinya dengan Mubarak sehingga lahirlah ‘Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah.
Kamu tahu siapa ‘Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah? Dia orang ‘alim yang banyak disebut-sebut namanya dan keharuman namanya semerbak hingga hari ini. Sang tuan, pemilik kebun juga seorang pengusaha, telah menjodohkan putrinya dengan seorang laki-laki shalih yang hanya seorang tukang kebun. Hasilnya? ‘Ulama besar pada jamannya dan perawi tsiqah, ‘Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah.
Hal ini bukan berarti bahwa mencari jodoh sendiri adalah hal yang tercela. Pun dijodohkan tidak selalu merupakan jalan yang terbaik. Semua kembali kepada sejauh mana kita memahami rambu-rambu dalam mencari pasangan.
Sumber : Panduan Lengkap Nikah (dari A-Z), Abu Hafsh Usamah.
|