Sobat Muda

NOTE: To use the advanced features of this site you need javascript turned on.

Home

Pengumuman

  • Diperbolehkan bagi temen-temen untuk mengutip seluruh isi artikel di dalam situs ini untuk tujuan kebaikan dan WAJIB untuk mencantumkan NAMA PENULIS dan SUMBERNYA.
  • Bagi yang mengisi comment ataupun guestbook, diharuskan mencantumkan nama dan identitas. Jika tidak maka comment kamu akan saya delete tanpa konfirmasi.
  • Bagi yang mengisi comment ataupun guestbook, cukup mengisi sekali saja. Karena setiap comment harus dimoderasi, jadi nggak ditampilkan terlebih dahulu.
  • Buat teman-teman yang ingin buat blog sendiri, kami juga menawarkan Hosting Gratis. So, buat yang pengen apply, silahkan pelajari lebih lanjut dengan membuka menu : Hosting Gratis pada menu di atas/

Mutiara 'Ilmu

Abu Sulaiman ad-Darani berkata, "Terkadang aku merenungkan satu ayat selama lima malam. Seandainya aku tidak berhenti memikirkannya, niscaya aku tidak akan pernah melewatinya. Dan terkadang ada ayat al-Qur'an yang menerbangkan akal. Maha Suci Rabb yang kemudian berkenan mengembalikannya kepada mereka." (Hilyatul Auliyaa 9/262)
 

Admin


asb_kppsi

albykazi

didit_fitriawan

Kalender

 
Saturday
July
2010
31
 
Dan Rabbmu, Agungkanlah...!!! PDF Print E-mail
User Rating: / 1
PoorBest 
Written by Andita SB   
Monday, 24 March 2008

 

Di masjid Khaif, Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri ketika itu. Tempatnya di Mina. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memandang ribuan jama’ah yang datang untuk berhaji. Kemudian lisannya yang tidak pernah berdusta itu menyebutkan pujian kepada Allah, lalu memulai khutbahnya.

“Wahai manusia,” sabda Rasulullah, “Dengarkan penjelasanku baik-baik, karena aku tidak tahu apakah aku masih berjumpa lagi dengan kalian di tempat ini pada tahun yang akan datang.”

Bergetar suara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengucapkan kalimat itu. Ada isyarat perpisahan yang membuat para shahabat tak kuasa menahan air matanya. Mereka menangis. Mereka tak sanggup menahan kesedihan. Rasanya, tak lama lagi sahabat terbaik dan Nabi yang penuh kemuliaan itu akan pergi menghadap Allah ‘azza wa jalla. Karena itu, siapapun yang peka hatinya akan terisak disertai linangan air mata.

Kemudian Rasulullah berkata, ”Apakah aku sudah menyampaikan risalah Rabbku pada kalian?” para shahabat menjawab dengan suara serentak, dengan gemuruh yang sama, dan dengan jawaban yang sama, “Benar, engkau telah menyampaikan risalah kepada kami.” “Allahumma iyshad. Ya Allah, saksikanlah,” seru beliau.

Sebagian shahabat sudah tidak sanggup lagi menahan tangisan mereka. Mereka mengetahui bahwa tugas Nabi sudah berakhir.

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan, “Wahai manusia, hendaknya yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir. Tahukah kalian hari apakah sekarang ini?”

“Hari yang suci.”

“Negeri apakah ini?”

“Negeri yang suci.”

“Bulan apakah ini?”

“Bulan yang suci.”

“Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, dan kehormatan kalian, sama sucinya dengan hari ini, negeri ini, pada bulan ini. Sesungguhnya orang mukmin itu bersaudara. Tidak boleh ditumpahkan darahnya. Rabb kalian satu. Bapak kalina semuanya Adam, dan Adam dari tanah. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah ialah yang  paling taqwa. Tidak ada kelebihan orang Arab di atas orang asing kecuali karena taqwanya. Apakah aku sudah menyampaikan kepada kalian?”

Suara para shahabat bergemuruh. Mereka menjawab, ”Benar!”

Begitulah, setiap kali Nabi menyampaikan satu bagian (maqtha’) nasihatnya, beliau mengakhirinya dengan, “Apakah aku sudah menyampaikan kepada kalian?”; dan para shahabat menjawab serentak dengan, “Benar!”

Hari ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah tiada. Dan sekarang, pesan ini datang untuk mengingatkan anda tentang pesan beliau. Jika ketika itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan agar yang hadir mengingatkan kepada yang tidak hadir, maka hari ini izinkanlah saya mengabarkan kepada anda. Mudah-mudahan yang belum tahu menjadi tahu dan yang telah lupa teringat kembali. Adapun kepada mereka yang masih mengingat dengan baik, dan bahkan lebih dari itu, semoga Allah ‘azza wa jalla mengokohkan pesan-pesan Rasulullah ini ke dalam hati sehingga menjadi penggerak setiap kali bertindak.

Mari kita memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar dapat memahami pesan-pesan Nabi ini dengan baik. Mudah-mudahan dengan demikian kita dapat memperoleh manfaat dan meraih kemenangan, di saat kepungan fitnah sudah terasa demikian kuat. Jika anak-anak kita tumbuh dengan berpijak pada pesan-pesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia ini, insya Allah di akhir zaman mereka kelak, kemenangan dan kekuasaan atas dunia ini ada di tangan mereka.

Dunia berada dalam genggaman. Mereka berkuasa di atasnya, tetapi tidak tenggelam di dalamnya. Sementara akhirat, ada di dalam hati mereka. Apapun yang mereka kerjakan, ke akhirat jualah ujungnya.

Jika pesan-pesan Nabi ini kita ajarkan di rumah-rumah kita, di kelompok-kelompok bermain, taman kanak-kanak, sekolah dasar, hingga jenjang-jenjang pendidikan yang lebih tinggi, niscaya mereka akan memiliki jiwa yang besar. Mereka memiliki rasa percaya diri yang tinggi, konsep diri yang baik, pikiran yang terbuka, dada yang lapang, dan harga diri (self-esteem) yang kokoh. Mereka tinggi bukan karena hidup di tengah-tengah orang yang rendah, tetapi karena keutamaan dan kebaikannya yang besar. Mereka mulia bukan karena hidup di antara orang-orang yang hina dipandang mata, bukan pula karena merendahkan, tapi karena akhlak, iman, dan amal shalih mereka. Mudah-mudahan dengan itu, Allah ‘azza wa jalla mengikat perasaan mereka satu sama lain dalam kehangatan dan kasih sayang.

Teringatlah saya pada firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa cinta (wudd).” (QS. Maryam : 96)

Inilah rasa cinta yang saling menguatkan. Ia menumbuhkan ‘izzah pada jiwa, sehingga tidak tunduk oleh gemerlapnya pakaian yang disandang manusia, tidak pula membusungkan dada karena menganggap diri sebagai bangsa yang paling mulia. Sebab, asal kita sama, bapak kita sama, Rabb kita sama, dan tidak ada kelebihan atas suatu kaum dibandingkan dengan kaum lainnya kecuali karena taqwanya.

Tak ada orang yang layak untuk direndahkan hanya karena ia terlahir dari negeri yang berbeda. Padahal Allah yang mereka sembah sama dengan Allah yang kita sembah, dan jasad mereka kelak juga sama dengan jasad kita. Setinggi apapun kemuliaan yang disebut manusia, jasad mereka akan dikebumikan hanya dengan selembar dan atau tiga lembar kain, sama dengan jasad kita –kecuali bagi orang-orang yang dipanggil dalam keadaan syahid di medan perang karena berjihad untuk Allah ‘azza wa jalla-.

Sungguh telah berlalu sejarah berbagai bangsa di dunia. Kaum ‘Aad dan Tsamud sudah mendahului kita dalam meraih kejayaan di muka bumi, tetapi mereka telah dibinasakan oleh Allah ta’ala. Sejarahnya berhenti. Hanya puing-puing yang masih dapat kita lacak jejak-jejaknya. Di masanya, mereka mampu membuat bangunan-bangunan yang tinggi dan besar. Tetap diri mereka kerdil, rendah dan hina karena kesombongannya.

Telah berlalu kisah kejayaan Baghdad dengan madrasah-madrasahnya yang berpengaruh. Di Nizhamiyyah, Baghdad misalnya, pernah lahir seorang Imam al-Ghazali. Tetapi bangsa yang besar dan disegani oleh manusia di seluruh dunia itu, telah dijatuhkan oleh Allah ‘azza wa jalla tatkala jiwa mereka berubah. Bangsa yang besar dengan peradaban yang tinggi itu, justru hancur dan tunduk oleh tentara Tartar. Padahal ketika itu, Tartar sangat kecil. Tetapi bukankah Allah ta’ala telah berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan mereka sendiri.”

Ketika menafsirkan ayat di atas, Ibnu Katsir menukil: Ibnu Hatim meriwayatkan dari Ibrahim, dia berkata: Allah mewahyukan kepada salah seorang Nabi Bani Israil: Katakanlah kepada kaummu, “Tidaklah penduduk suatu negeri dan tidaklah berpenghuni suatu rumah yang ebrada dalam ketaatan kepada Allah, kemudian mereka beralih kepada kemaksiatan terhadap Allah melainkan Allah mengalihkan dari mereka apa yang mereka cintai kepada apa yang mereka benci.”

Banyak hal yang patut kita renungkan, bagi diri kita maupun untuk mendidik anak-anak kita. Banyak hal yang harus kita pikirkan. Dan banyak hal pula yang perlu kita perbincangkan dari pesan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat di Mina untuk pendidikan anak-anak kita. Semuanya agar mereka kelak dapat meninggikan kalimat Allah di muka bumi. Bukan meninggikan diri dengan menggunakan kalimat Allah. Sesungguhnya, jika mereka meninggikan kalimat Allah di muka bumi, maka Allah akan meninggikan martabat mereka di hadapan manusia di seluruh dunia. Lebih di hadapan orang-orang kafir dan musyrik. (MFA)

Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Last Updated ( Wednesday, 23 April 2008 )
 
< Prev