Pengumuman
- Diperbolehkan bagi temen-temen untuk mengutip seluruh isi artikel di dalam situs ini untuk tujuan kebaikan dan WAJIB untuk mencantumkan NAMA PENULIS dan SUMBERNYA.
- Bagi yang mengisi comment ataupun guestbook, diharuskan mencantumkan nama dan identitas. Jika tidak maka comment kamu akan saya delete tanpa konfirmasi.
- Bagi yang mengisi comment ataupun guestbook, cukup mengisi sekali saja. Karena setiap comment harus dimoderasi, jadi nggak ditampilkan terlebih dahulu.
- Buat teman-teman yang ingin buat blog sendiri, kami juga menawarkan Hosting Gratis. So, buat yang pengen apply, silahkan pelajari lebih lanjut dengan membuka menu : Hosting Gratis pada menu di atas/
Mutiara 'Ilmu
| al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata: "Mereka berkata, lidah orang bijak ada dibelakang hatinya. Ketika ingin berkata, ia memikirkan dulu di hatinya. Jika perkataan itu baik, ia mengucapkannya dan jika tidak baik, ia menahan lidahnya. Adapun orang bodoh, hatinya di ujung lidahnya di mana lidahnya tidak kembali ke hatinya. Apa yang ada di lidahnya ia ucapkan semuanya." (Tafsir Ibnu Katsir (III/266) |
| Ayah, Terima Kasih atas Ridhamu |
|
|
|
| Written by Hikmah | |||||||||||||||||||||||||||||||
| Thursday, 29 October 2009 | |||||||||||||||||||||||||||||||
|
“Pokoknya kamu tidak ayah izinkan pake jilbab gede’, jilbabnya segitu saja sudah cukup, sudah syar’i” kata ayahku untuk kesekian kalinya padaku. Semenjak aku utarakan niatku pake jilbab gede, ayah selalu selalu saja mengucapkan kata-kata tadi tiap ada kesempatan. Kadang aku diam saja, kadang aku berkata “ gak ayah, aku tetep pengen pake…” Sikap ayah yang seringkali memperingati aku tidak membuat aku mundur dari niatanku, ayah lakukan itu mungkin karena ayah tau aku tidak akan mundur. Aku tidak pernah menunjukkan sikap memberontak katika ayah melarangku.. aku yakin kalau hari ini ayah melarang, mungkin esok ayah akan ridha. Saat itu sudah sepekan lamanya kukenakan jilbab panjang dan lapang ini, tapi ayah belum tahu, aku belum berani menampakkannya padanya, entah apa reaksi beliau tapi aku sudah siap, apapun itu. Tiap pagi sebelum berangkat sekolah jilbab yang aku kenakan aku gulung lebih pendek, lalu pamit pada ayah dan ibu. Aku fikir mereka akan tahu ternyata Alah belum berkehendak. Hari itu sepulang sekolah saat memasuki gerbang rumah, aku tak tahu ayah sedang duduk di serambi rumah. Ku buka pagar pintu rumahku “masya Allah..ayah..” jeritku dalam hati, sementara itu angin di siang hari itu mengibas-ngibas jilbabku yang lapang, jilbabku melambai-lambai seakan ingin menunjukkan pada ayah akan keberadaannya. Segera kupasang senyumku untuk ayah sambil ucapkan salam “ ya Allah ketahuan deh.. qadarallah” bisikku dalam hati sambil mengatur nafas dengan jantung yang berdegup tak seperti biasanya. “ooo jadi kamu sudah pake jilbabnya?..” ayah terus saja memandangiku dengan tatapan yang tak biasa, aku berusaha tersenyum saja. Ayah sudah tahu setidaknya aku lega. Beberapa waktu lamanya perjalananku mempertahankan jilbabku ini tak jarang ayah berusaha menyuruhku untuk melepaskannya. Pernah suatu ketika ayah berusaha membujukku lagi untuk melepaskan jilbab ini. Ayah memang orang yang agamawan tapi bukan orang yang setuju dengan jilbab yang berlebihan (menurut beliau) seperti yang aku kenakan. Beliau memulai dengan hujjah-hujjahnya menasehatiku, aku hanya diam saja mendengarkan nasehatnya itu. Setelah ayah selesai berbicara, aku lalu memulai reaksiku dengan berkata “ tapi ayah… lihat anak ayah ini semakin cantik kan dengan jilbab ini?” sambil tersenyum ku pegang jilbab yang aku kenakan dan ku tatap wajah ayah dalam-dalam, berharap beliau tersenyum melihat tingkahku. Aku hanya sekedar ingin mencairkan suasana dan membuat ayah mengerti aku sangat berharap ayah ridha dengan keputusanku, hingga detik ini ~ semoga. Ya Allah, syukurku hanya pada-Mu.. Engkau anugerahkan ayah yang bijak untukku.. ayah, terimakasih atas ridha-Mu ^_^ Buat saudariku muslimah yang berniat untuk mengenakan jilbab Syar’i jangan patah semangat yah, jika halangan itu datang dari orang tuamu..yukk birulwalidainnya jangan pernah berhenti, tetap usaha dan bersabarlah juga jangan lupa berdo’a..esok akan engkau kecap nikmatnya perjuanganmu.
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
|||||||||||||||||||||||||||||||
| Next > |
|---|








