Sobat Muda

NOTE: To use the advanced features of this site you need javascript turned on.

Home arrow Inspirasi arrow Mengajak Orang Tersayang

Pengumuman

  • Diperbolehkan bagi temen-temen untuk mengutip seluruh isi artikel di dalam situs ini untuk tujuan kebaikan dan WAJIB untuk mencantumkan NAMA PENULIS dan SUMBERNYA.
  • Bagi yang mengisi comment ataupun guestbook, diharuskan mencantumkan nama dan identitas. Jika tidak maka comment kamu akan saya delete tanpa konfirmasi.
  • Bagi yang mengisi comment ataupun guestbook, cukup mengisi sekali saja. Karena setiap comment harus dimoderasi, jadi nggak ditampilkan terlebih dahulu.
  • Buat teman-teman yang ingin buat blog sendiri, kami juga menawarkan Hosting Gratis. So, buat yang pengen apply, silahkan pelajari lebih lanjut dengan membuka menu : Hosting Gratis pada menu di atas/

Mutiara 'Ilmu

al-Hasan al-Bashri berkata: "Wahai Bani Adam, sesungguhnya kamu itu adalah ibarat rangkaian hari-hari. Jika sehari berlalu maka sebagian dari umurmu juga hilang." (Siyar A'lam an-Nubala' IV/585)
 
Mengajak Orang Tersayang PDF Print E-mail
User Rating: / 1
PoorBest 
Written by Rizki Aji   
Wednesday, 15 April 2009

Ada banyak ragam yang mengiringi sebuah cinta. Semua tahu bahwasanya cinta ialah pesona tanpa batas henti yang terus ada. Cinta pula membuat segalanya lebih indah dan berwarna. Segala seseuatu dengan ekspresi keindahan serta penuh penghayatan akan menghasilkan sebuah keselarasan dalam bingkai keserasian. Setiap orang paham arti cinta sekalipun tiap orang memiliki definisi yang berbeda-beda soal cinta. Sebab seorang alim mengatakan, “Cinta tidak bisa didefinisikan dengan jelas, bahkan bila didefinisikan tidak menghasilkan (sesuatu) melainkan menambah kabur dan tidak jelas, (berarti) definisinya adalah adanya cinta itu sendiri.” (Madarijus Salikin, 3/9)

 

Kecintaan luar biasa seorang anak terhadap keluarganya, saat ia mendapat taburan benih-benih hidayah dalam hatinya. Secara fitrah tentunya, seseorang ingin menyampaikan apa yang ia rasakan apatah itu kebahagiaan, kegelisahan, kegundahan, atau sekedar tawa. Dengan maksud agar orang tersebut dapat merasakan apa yang ia rasakan. Ya, ekspektasi cinta ialah ekspektasi berbagi rasa. Ada yang terbawa pada luapan nuansa iba, ada pula duka, dan tak sedikit sengsara, tapi tak jauh lebih banyak dari tawa bahagia.

 

Butiran hidayah yang mengisi hati seorang anak. Anak yang dilahirkan ditengah keluarga yang memaknai keislaman bukan sebagai ajaran, melainkan Islam hanya sekedar keturunan. Keluarga yang hanya paham Islam penuh dengan ritual tradisional yang memiliki kesamaan akulturasi budaya dengan wilayah dimana ia menetap dibesarkan. Akan tetapi Allah Ta’ala dengan segala kekuasaannya, yang apabila ia telah mengkehendaki niscaya tidak ada satu pun yang dapat menolak maupun dapat menawar atas kehendak-Nya. Sebab Allah pengatur dan pencipta alam serta seisinya.

 

“…Katakanlah : "Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah jika Dia menghendaki kemudharatan bagimu atau jika Dia menghendaki manfaat bagimu. Sebenarnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Fath :11).

 

“...Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.” (QS. Al-Baqarah : 213).

 

“…Kepunyaan Allahlah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Maidah : 17).

 

Begitulah kehendak Allah, tak ada sesuatu pun yang berhak menolak ataupun menggugat. Hidayah adalah salah satu kehendak Allah yang Maha Bijaksana terhadap hamba-Nya. Dia tidak ingin hamba-Nya senantiasa berada dalam lubang kegelapan. Hidayah itu pulalah yang mempertemukan Umar bin Khattab masuk ke dalam Islam karena mendengarkan bacaan Al Qur’an saudarinya, hidayah pulalah yang mengantarkan seorang Al Qadhi Imam Fudhail bin Iyadh dari seorang pembegal menjadi seorang mufti bahkan seorang imam besar tatkala sebelumnya ia mencuri dengar apa yang dibaca oleh seorang gadis pujaan hatinya lantas ia pun mendatangi majelis ilmu dan kokohlah dirinya diatas ketegaran serta ketabahan dalam mengarungi jalan hidayah.

 

Tatkala dimasa kini fitnah begitu menggurita, semua lini dikuasai oleh luapan fitnah menerjang bagai bah dan menghujani bagai sebuah butiran air dikala hujan deras menyapa tubuh. Terasa menyakitkan. Dakwah pun hadir menyapa sebagian besar insan muda dalam kehidupannya. Generasi-generasi penuh harapan pun bermunculan silih berganti hidayah menyapa. Menaiki bahtera ilmu dan samudera hidayah pun ditempuh.

 

Tapi tak jarang selalu ada tanggapan miring. Kembalinya seseorang kepada agama Allah acapkali ditemui penantangan dari kanan dan kiri, atas dan bawah. Tetangga sebelah, teman sepergaulan, saudara sepermainan, bahkan tak jarang orangtua sendiri. Padahal ingin rasanya mereka merasakan hidayah atas apa yang dirasakan oleh dirinya si anak tersebut yang telah lebih dahulu.

 

Persis apa yang dialami oleh Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam dimasa awal dakwah Islam dahulu. Penentangan bertubi-tubi kala wahyu telah menghampiri. Tekanan, ujian dan cobaan manusia-manusia Mekkah era jahiliyah dahulu sungguh kuat. Godaan dari cacian serta tawaran kenikmatan pun datang menghampiri. Pantaslah bila Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam mengatakan

 

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Sa’d bin Abi Waqqash radhiyallahu 'anhu yang bertanya kepada beliau: “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berat ujiannya?” Beliau menjawab: “Para Nabi. Kemudian yang mengikuti mereka (orang-orang mulia). Kemudian yang mengikuti mereka (orang-orang mulia). Seseorang diuji sesuai dengan kadar dien (iman)-nya. Kalau imannya kokoh, maka berat pula ujiannya. Apabila imannya lemah, dia diuji sesuai dengan kadar imannya. Dan senantiasa ujian itu menimpa seorang hamba sampai membiarkannya berjalan di muka bumi dalam keadaan tidak lagi mempunyai dosa.”

 

Sungguh sangat menyenangkan rasanya kala dakwah menyentuh relung jiwa orang yang dicintai, apatah lagi ia adalah orang tua yang telah melahirkan, membesarkan, serta merawat sang anak yang kini telah tersapa oleh hidayah. Ingin rasanya hati membimbing dan mendapatkan sesuatu yang lebih baik daripada unta merah, kendaraan termewah serta termahal pada masa Rasulullah shalalahu ‘alayhi wa sallam,

 

“Teruslah, jalan pelan-pelan hingga tiba di pekarangan mereka. Kemudian ajaklah mereka kepada Islam. Terangkan apa yang wajib atas mereka tentang hak Allah dalam Islam. Demi Allah, seandainya Allah beri petunjuk satu orang saja lewat dirimu, maka itu lebih baik bagimu daripada unta merah” (HR. Al-Bukhari (7/365) dan Muslim (1807)).

 

Mengajak Orang Tersayang

Rasulullah shalallhu ‘alayhi wa sallam memperkenalkan Islam mula-mula ialah kepada sahabat-sahabat terdekatnya. Hirarki dakwah dalam membimbing sahabatnya sangatlah erat. Beliau shalallahu ‘alayhi wa sallam mengajak Abu Bakar maka Abu Bakar pun mengajak Utsman bin Affan, Sa’ad bin Abi Waqqash, Az Zubair bin ‘Awwam, ‘Abdurrahman bin ‘Auf, dan Thalhah bin ‘Ubaidillah., begitulah seterusnya.

 

Dakwah kepada mereka yang tersayang ialah dakwah yang sungguh membekas ketika mengajaknya dan kala keberhasilan terengkuh. Ada beberapa hal yang mungkin bisa menjadi sebuah cara bagi seorang anak untuk mengajak orang tuanya kepada hidayah seperti yang ia dapatkan.

 

Pertamanya ialah tidak mendikte, sebab siapapun akan merasa sangat risih bila di dikte tak terkecuali orang tua. Orang tua sejatinya ialah sosok dengan pancaran kedewasaan, setidaknya perkataan mengetahui mana baik dan buruk telah sangat terpahami dan termengerti. Dekati dengan cara bijak dan penuh kebajikan tanpa paksaan atau pula bermurah diri untuk marahan. Dekati dengan sapaan kedewasaan pula dibarengi bersama kehangatan. Dakwah menyampaikan bukan memaksakan. Perlahan dan pelan iringan kebersamaan. Dekati pula orang tersayang dengan pendekatan kedewasaan berfikir yang dapat masuk logika. Mudah dicerna, efisien diterima, tak perlu keras memikirkannya. Sebagaimana seorang Saad bin Waqqash melakukan personal approach atas ibunya yang memboikot makanan untuk diterima tubuhnya. Demi Allah, ketahuilah wahai ibunda sayang, seandainya ibunda memiliki seratus nyawa lalu ia keluar satu persatu, tidaklah aku akan meninggalkan agama ini walau ditebus dengan apa pun juga. Maka sekarang, terserah kepada ibunda, apakah ibunda akan makan atau tidak”

 

Dakwah pula dengan mencontohkan nilai-nilai santun serta teladan pada orang yang disayang. Berikanlah contoh tentang kehidupan tetangga sekitar yang taat dalam menjalankan kehidupan sehari-harinya. Mahligai rumah tangga terasa harmonis, sempitnya menjadi sebuah ladang amal untuk meluaskan hati, dan menanamkan nilai istimewa dalam keluarga. Adakalanya hal ini lebih memudahkan hati orang tersayang cepat menerima dengan apa yang disampaikan. Namun tetaplah pelan-pelan, jawablah pertanyaan orang tersayang dengan jawaban tak membingungkan. Hadapi sanggahan dan bantahan dengan senyuman tidak dengan menghakimi. Tunjukkan perbuatan dengan senantiasa terus berbakti tanpa henti.

 

Berusahalah dengan keras untuk mengajak orang tersayang kepada jalan dan kebaikan, seksama berupaya sekuat tenaga demi berkumpul bersama di akhirat kelak sebagai tujuan utama di puncak atas keagungan harapan. “Dan orang-orang yang beriman dan yang anak keturunan mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, akan Kami pertemukan anak keturunan mereka itu dengan mereka dan Kami tidak mengurangi pahala amalan mereka sedikit pun. Setiap orang terikat dengan apa yang diusahakannya.” (Ath-Thur: 21)
Dalam firman-Nya ini Allah Subhanahu wa Ta'ala mengabarkan tentang keutamaan-Nya, kedermawanan-Nya, anugerah-Nya, kelembutan-Nya terhadap makhluk-makhluk-Nya serta kebaikan-Nya, bahwa orang-orang yang beriman apabila anak keturunan mereka mengikuti mereka dalam keimanan, maka Allah Subhanahu wa Ta'ala akan mempertemukan anak keturunan itu dengan ayah mereka yang shalih, walaupun amalan anak keturunan itu tidak bisa menyamai amalan ayah mereka, untuk menyenangkan hati ayah mereka dengan adanya anak keturunan itu di sisinya. Maka Allah Subhanahu wa Ta'ala menghimpun mereka dalam bentuk yang paling baik, dengan mengangkat derajat orang yang kurang sempurna amalannya di sisi orang yang sempurna amalannya, tanpa mengurangi pahala amalan dan derajat orang yang sempurna amalannya tersebut. (Tafsir Ibnu Katsir, 7/332)

 

Sungguh indah bila kita melihat apa yang dikatakan kekasih Allah, Ibrahim Alayhis salam atas orang tuanya. Penuh santun dan hikmah dalam menyampaikan, sesuai dengan keadaan, tanpa paksaan serta tidak menonjolkan diri lebih hebat keilmuan disbanding dengan ayahnya. Sebagaimana difirmankan oleh Allah dalam QS. Maryam : 41-50

 

“Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al Kitab (Al Quran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang nabi. Ingatlah ketika ia Berkata kepada bapaknya; "Wahai bapakku, Mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun? Wahai bapakku, Sesungguhnya Telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, Maka ikutilah aku, niscaya Aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan yang Maha Pemurah. Wahai bapakku, Sesungguhnya Aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan yang Maha pemurah, Maka kamu menjadi kawan bagi syaitan". Berkata bapaknya: "Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, Hai Ibrahim? jika kamu tidak berhenti, Maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah Aku buat waktu yang lama". Berkata Ibrahim: "Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, Aku akan memintakan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya dia sangat baik kepadaku. Dan Aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan Aku akan berdoa kepada Tuhanku, Mudah-mudahan Aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku". Maka ketika Ibrahim sudah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah, kami anugerahkan kepadanya Ishak, dan Ya'qub. dan masing-masingnya kami angkat menjadi nabi. Dan kami anugerahkan kepada mereka sebagian dari rahmat kami dan kami jadikan mereka buah tutur yang baik lagi Tinggi.”

 

Sesungguhnya orang tua terkadang bergantung pada bagaimana anaknya. Sebab bagi mereka buah hati adalah segalanya. Apapun dilakukan untuk sang buah hati. Maka tetaplah dekati mereka sebagaimana dahulu. Songsong hidayah dengan hati lapang dan segera sampaikan apa yang dimiliki dengan senyum menawan tanpa paksaan.

 

Wallahu ‘alam bi shawwab

 

 

 

Comments
Add New Search
irmha  - nice   |125.162.209.xxx |2009-04-17 14:41:34
just wanna say nice blog.....nice news... sesuai dengan namanya sobat muda
fathyfathyfathy   |202.93.36.xxx |2009-04-20 10:17:01
Semoga ALLOH mudahkan usaha dan langkah para hambaNya yang senantiasa berusaha
mengajak orang-orang tersayang ikut serta merasakan sebuah hadiah :
hidayah...

*masih berusaha dan berusaha...terus berusaha sekuat
tenaga......suatu saat, pasti usaha itu akan membuahkan sebuah
bahagia...aamin.

semangad fathykuw!!!
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
< Prev   Next >