Pengumuman
- Diperbolehkan bagi temen-temen untuk mengutip seluruh isi artikel di dalam situs ini untuk tujuan kebaikan dan WAJIB untuk mencantumkan NAMA PENULIS dan SUMBERNYA.
- Bagi yang mengisi comment ataupun guestbook, diharuskan mencantumkan nama dan identitas. Jika tidak maka comment kamu akan saya delete tanpa konfirmasi.
- Bagi yang mengisi comment ataupun guestbook, cukup mengisi sekali saja. Karena setiap comment harus dimoderasi, jadi nggak ditampilkan terlebih dahulu.
- Buat teman-teman yang ingin buat blog sendiri, kami juga menawarkan Hosting Gratis. So, buat yang pengen apply, silahkan pelajari lebih lanjut dengan membuka menu : Hosting Gratis pada menu di atas/
Mutiara 'Ilmu
| al-Hasan al-Bashri berkata: "Wahai Bani Adam, sesungguhnya kamu itu adalah ibarat rangkaian hari-hari. Jika sehari berlalu maka sebagian dari umurmu juga hilang." (Siyar A'lam an-Nubala' IV/585) |
Kalender
|
| Adzan dalam Islam |
|
|
|
| Written by Andita SB | |
| Friday, 27 February 2009 | |
|
Cara panggilan shalat yang lazim kita kenal dengan adzan ternyata mengundang banyak perhatian para sahabat semisal Abdullah bin Zaid. Bahkan sebenarnya penggagas adzan pertama berasal dari Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu hanya saja beliau belum mengutarakannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam “kalah cepat” dengan Abdullah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu yang lebih dulu menyampaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Awalnya ada beberapa usul untuk panggilan shalat. Pertama, ada yang mengusulkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan cara mendirikan panji saat waktu shalat tiba. Tatkala melihat panji, mereka akan saling memanggil antara satu dengan yang lain. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak tertarik dengan usulan ini. Usul kedua, panggilan shalat dengan ditiup terompet seperti yang dilakukan oelh orang Yahudi, terang saja usul ini langsung ditolak oleh yang mulia, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan sahabat yang lain mengusulkan agar dibunyikan lonceng. “Itu adalah cara orang Nasrani”, kata Rasulullah. Sementara Abdullah bin Zaid bin Abdu Rabbihi, yang mempunyai rasa peduli seperti yang dirasakan Rasulullah, bergegas pulang. Abdullah diperlihatkan teks adzan saat tidur. Keesokan harinya dia dating menemui Rasulullah dan menceritakan apa yang dia lihat dalam tidurnya. “Sesungguhnya saya berada di antara tidur dan terjaga. Tiba-tiba ada seseorang yang mendatangi saya. Kemudian mempelihatkan adzan.” kata Abdullah bin Zaid. Sebenarnya Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu lebih dulu melihat hal yang sama seperti yang dialami oleh Abdullah bin Zaid. Sayangnya, Umar menyembunyikan apa yang dia lihat itu selama dua puluh hari. Kemudian Umar memberitahukan kepada Rasulullah. Maka Rasulullah bertanya kepadanya, “Apa yang menghalangimu untuk memberitahukan kepada kami?” Umar berkata, “Sebab Abdullah bin Zaid telah lebih awal memberitahukan kepada anda sehingga saya merasa malu.” Kemudian Rasulullah bersabda, “Wahai Bilal, bangunlah dan lihatlah apa yang diperintahkan oleh Abdullah bin Zaid dan lakukanlah.” Maka tak heran bila suara terompet dan lonceng sangat dibenci, tidak hanya untuk shalat bahkan di luar shalat pun suara terompet dan lonceng dilarang secara mutlak. Sebab, selain perilaku kaum Yahudi dan Nasrani, juga menabuh lonceng dilakukan tak hanya sebatas waktu-waktu ibadah mereka. Sedangkan di dalam adzan terkandung sebutan nama Allah subhanahu wa ta’ala. Saat adzan dikumandangkan pintu-pintu langit dibuka, syaithan-syaithan lari terbirit-birit dan rahmat turun dengan kerasnya. Sayangnya beberapa kalangan Islam tertentu hingga kini masih marak panggilan shalat dengan menabuh gendang (beduk) di waktu-waktu shalat lima waktu tiba yang mereka anggap sebagai peniruan Dzulqarnain. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri sangat membenci dengan cara menabuh gendang atau beduk. “Kalian akan benar-benar melakukan apa yang dilakukan oleh orang-orang yang dating sebelum kalian.” Sedangkan saat pergantian tahun tak sedikit dari kalangan umat Islam dengan meniup terompet yang merupakan simbol dari kaum Yahudi dan Nasrani. Padahal meniru-niru tingkah laku orang Yahudi, Nasrani, dan orang non muslim, kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah merupakan tindakan yang dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya. Maka bukan hal yang wajar bila kita lebih mengenal tradisi orang Yahudi dan Nasrani ketimbang sunnah-sunnah dalam agama kita sendiri. Saatnya kita membuka mata dan hati kita untuk membedakan maan tradisi yang berasal dari Yahudi dan Nasrani yang wajib kita tinggalkan kalau tidak mau dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya. Mana pula tradisi yang harus kita pegang teguh.
Sumber : Iqtidha ash-Shirath al-Mustaqim, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah |
|
| Last Updated ( Friday, 27 February 2009 ) |
| Next > |
|---|













