Pengumuman
- Diperbolehkan bagi temen-temen untuk mengutip seluruh isi artikel di dalam situs ini untuk tujuan kebaikan dan WAJIB untuk mencantumkan NAMA PENULIS dan SUMBERNYA.
- Bagi yang mengisi comment ataupun guestbook, diharuskan mencantumkan nama dan identitas. Jika tidak maka comment kamu akan saya delete tanpa konfirmasi.
- Bagi yang mengisi comment ataupun guestbook, cukup mengisi sekali saja. Karena setiap comment harus dimoderasi, jadi nggak ditampilkan terlebih dahulu.
- Buat teman-teman yang ingin buat blog sendiri, kami juga menawarkan Hosting Gratis. So, buat yang pengen apply, silahkan pelajari lebih lanjut dengan membuka menu : Hosting Gratis pada menu di atas/
Mutiara 'Ilmu
|
asy-Syaikh Yahya bin Ali al-Hajuri berkata: "Di sebagian negara, ada di antara mereka yang memberikan kepada orang-orang yang sakit berupa hiburan-hiburan, baik itu dengan musik-musik di rumah sakit, atau televisi, atau permainan untuk menghibur mereka, dan ini demi Allah adalah kemudharatan bagi seseorang dan tidak bermanfaat bagi orang-orang yang sehat, tidak pula bagi orang yang sakit. Tidak boleh tolong-menolong dalam perkara dosa dan permusuhan, tidak bersama orang yang sehat dan tidak pula bersama orang yang sakit." (Berbahagialah Muslim Yang Sakit, penerjemah Abu Umar Urwah & Abu Muhammad Farhan, hal. 68. Tasjilat al-Ilmu Yogyakarta) |
| Lekas Sampai Tujuan |
|
|
|
| Written by Ummu Abdillah | |||||||
| Tuesday, 17 February 2009 | |||||||
|
Harus ada sebuah semangat untuk menjadikan diri lebih baik, sebuah semangat yang mengkristal akan menghasilkan sebuah dorongan tenaga yang sempurna. Semangat-semangat itulah yang menghasilkan sebuah momentum, semangat mengajari diri agar senantiasa menjadi yang terbaik, dan semangat adalah pemompa jiwa yang kadang hampa. Ada banyak hal yang dilalui seekor harimau untuk mendapatkan mangsanya. Tidak hanya dengan menunjuk maka sang mangsa menghampirinya. Akan tetapi butuh usaha keras untuk mengejar mangsanya.
Kali ini mari menilik sebuah kekuatan besar tentang semangat yang terfokus untuk menghasilkan yang terbaik. Kembali ke harimau tadi, ia sebelumnya mengamati tingkah polah mangsanya. Tentunya ia hanya mengincar satu untuk menjadi bahan buruannya, tidak kesemua hewan yang menjadi bagian dari patronnya ia mangsa. Ia sebelumnya telah menandai siapakah santapan untuk siang hari ini dan sekaligus sebagai sumber cadangan devisa untuk beberapa hari kedepan kalau-kalau keesokan hari ia malas untuk makan. Maka dengan sebuah ketenangan serta dihimpun menjadi sebuah kesatuan semangat yang mendesak bahwa ia harus makan, pantaslah fokus tujuannya telah ditetapkan. Tak lama kemudian ia pun mengejar dan harus dapat. Itulah semboyannya, yakni harus dapat. Karena ada usaha keras dibalik semuanya, ia memantau, ia berlari, dan ia tetap konsentrasi pada satu bidang buruan. Tak lama pun ia menerkam dan mengunci mati serta menggigit objek vital buruannya, usaha yang tak sia-sia baginya. Sebab sebelumnya hanya ada dua kemungkinan, jika ia dapat maka ia takkan sia-sia, dan jika lepas maka gagallah semua rencana dalam kamus instingnya. Begitulah seharusnya seorang muslim. Hendaklah ia semangat dan membangun sebuah titik pusat agar ia dapat fokus meraih cita-citanya. Sebuah cita-cita umum yang diletakkan nomor satu ialah surga yang dirindu. Apakah mudah mendapatkannya? Tidak semuanya mendapatkan yang nikmat itu mudah. Harus ada usaha yang menghasilkan semangat dengan capaian terukur serta ketenagan agar dapat selamat dan sempurna mendapatkannya. Lihatlah bagaimana Umair bin Humam mendapatkan surganya dalam penjelasan dibawah ini. Dalam sebuah riwayat yang dibawakan oleh Imam Musim. Suatu ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berada bersama barisan sahabat ridwanallohu ‘alayhim jami’an menyongsong sebuah peperangan melawan kaum musyrikin di medan Badar, kaum muslimin datang lebih awal dibandingkan pasukan kaum musyrikin. Maka ketika itu Nabi Muhammad shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda “Jangan sekali-kali salah seorang dari kalian maju ke depan, kecuali kalau aku memerintahkan.” Kemudian kaum musyrikin semakin mendekat, maka Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Bersegeralah menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi.” Maka Umair bin Al Humam radhiyallohu ‘anhu berkata, “Wahai Rasulullah, surga luasnya seluas langit dan bumi?” Beliau menjawab,”Ya.” Sontak ‘Umair berkata,”Ckk…ckk (alangkah hebatnya).” Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam berkata, “Apa yang membuatmu kagum?” ‘Umair pun menjawab, “Tidak apa-apa wahai Rasululah, hanya saja berharap agar saya menjadi penduduknya.” Beliau shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Engkau termasuk penduduknya.” Akhirnya seorang ‘Umair melemparkan beberapa kurma dari tempat perbekalannya sambil memakannya, kemudian ia berkata, “Kalau aku hidup dengan menunggu kurma ini sampai habis, tentu alangkah panjangnya hidupku!!” Maka ‘Umair membuang kurma-kurmanya kemudian memerangi mereka di medan laga dan ia pun terbunuh. Seorang sahabat yang mulia, sahabat yang tidak menyia-nyiakan waktunya sekalipun ia telah diberikan oleh Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam dengan jaminan surga. Maka ia tak membuang waktunya untuk bersegera dan mempercepat segalanya. Itulah hakikat keberhasilan dan kebahagiaan seorang ‘Umair bin Al Humam. Maka, masihkan hingga kini kita memadamkan api semangat itu, meniup-niupkannya kearah tak tentu dan menghanguskan titik ketenagan serta fokus kesuksesan. Ayolah ukhti, hidup ini terlalu berarti untuk sekedar di depan televisi, hidup ini pun harus lebih baik lagi daripada sekedar usaha pagi hari dalam memasak nasi. Semangat untuk mendapatkan, ketenangan untuk sebuah kesuksesan, serta fokus objek yang senantiasa terukur untuk dicapai. Pilihan sudah terbentang, maka ambillah sebuah keputusan dan kini hanya ada satu kata, Lakukan!!!
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
|||||||
| Last Updated ( Wednesday, 18 February 2009 ) | |||||||
| < Prev | Next > |
|---|







