Pengumuman
- Diperbolehkan bagi temen-temen untuk mengutip seluruh isi artikel di dalam situs ini untuk tujuan kebaikan dan WAJIB untuk mencantumkan NAMA PENULIS dan SUMBERNYA.
- Bagi yang mengisi comment ataupun guestbook, diharuskan mencantumkan nama dan identitas. Jika tidak maka comment kamu akan saya delete tanpa konfirmasi.
- Bagi yang mengisi comment ataupun guestbook, cukup mengisi sekali saja. Karena setiap comment harus dimoderasi, jadi nggak ditampilkan terlebih dahulu.
- Buat teman-teman yang ingin buat blog sendiri, kami juga menawarkan Hosting Gratis. So, buat yang pengen apply, silahkan pelajari lebih lanjut dengan membuka menu : Hosting Gratis pada menu di atas/
Mutiara 'Ilmu
| al-Hasan al-Bashri berkata: "Wahai Bani Adam, sesungguhnya kamu itu adalah ibarat rangkaian hari-hari. Jika sehari berlalu maka sebagian dari umurmu juga hilang." (Siyar A'lam an-Nubala' IV/585) |
Kalender
|
| Wisata Keluarga Paling Istimewa |
|
|
|
| Written by Ummu Abdillah | |||||||
| Tuesday, 17 February 2009 | |||||||
|
Majelis ilmu adalah sebuah ketenangan tersendiri, didalamnya terlihat banyak pancaran energi positif, di dalamnya pula terkandung lautan wawasan yang membuat seorang datang dalam keadaan hampa menjadi keluar dengan keadaan bernyawa. Bagi para perindunya, majelis ilmu merupakan sebuah rihlah jiwa, tempat rekreasi bagi hati, dan sebuah sarana tamasya untuk memahami nilai investasi yang tak pernah habis.
Benarlah sebuah hadits yang menyebutkan bahwasanya, “Barangsiapa yang menapaki suatu jalan dalam rangka mencari ilmu syar’i maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke Surga” (HR. Ibnu Majah dan Abu Dawud, dishahihkan oleh Asy Syaikh Albani). Belumlah sampai kita kedalam surga yang dinanti, belumlah pula tapakan kaki kita jauh melampaui para pencari ilmu yang lebih gigih. Namun sungguh sebuah keindahan bila kita mengamati lebih jauh lagi dalam sebuah majelis ilmu. Majelis ilmu merupakan sebuah sarana wisata keluarga tanpa biaya namun penuh daya guna. Seorang abah (bapak) bersama anaknya menyimak lebih dalam sebuah paparan dan penjelasan dari sang da’i, diujung sana terlihat seorang ummahat khusyuk mengajak anak wanitanya yang dalam gendongan untuk tenang. Sebuah ketentraman jiwa bagi siapapun yang melihatnya, dikala sang anak meminta minum, maka si abah dengan tas ransel besarnya berisi baju salinan untuk si bayi yang bersama umminya secara sabar membukakan bungkusan biskuit serta segelas air mineral yang dibeli sebelum berangkat wisata. Seorang ibu sedang mengocok air susu dalam botol untuk disuguhkan ke bibir sang bayi. Sungguh sebuah pemandangan yang indah, pemandangan yang penuh ketenangan dibandingkan sekeluarga justru lebih suka ikut pawai demonstrasi. Pawai yang ketika pergi dengan biaya sendiri, sampai di lokasi hanya berdiri di bawah terik matahari, dan pulangnya tak dapat apapun melainkan rasa lelah tak terperi. Itulah mengapa majelis ilmu selalu ramai dengan keluarga-keluarga baru. Sebab dikala sang anak lelah dan terasa mengantuk, maka sang ayah pun melipat kakiknya agar si anak bisa tertidur di paha ayahnya. Disaat si anak bermain dengan anak lainnya, dan suasana mulai gaduh, maka sang ayah mencari apakah sang anak ada di kerumunan gaduh itu. Lantas ayah menariknya dan di dudukkan kembali dengan tenang untuk kembali menyimak. Sebuah bentuk nilai estetika yang tidak dapat dilukiskan diatas kanvas secara abstraksi maupun realisme alirannya. Itu adalah sebuah ketenangan jiwa dan sebuah ketentraman. Terkadang repot memang menghingapi, namun untuk berburu warisan yang nilai jualnya tak terhingga, siapapun rela untuk mengejarnya. Bagaimana jika kiranya dikatakan, diujung sana ada harta terpendam bernilai jutaan rupiah. Tentulah semua orang berhambur untuk mengejarnya. Karena apa? Karena seseorang melihat bentuknya secara nyata, namun apabila telah diraih, tak jarang harta itu habis tak tersisa tanpa bekas. Namun ilmu tidak, tak ada kata habis, karena itu adalah harta warisan termahal. Itulah mengapa Rasulullah menegaskan, “Ilmu adalah warisan para Nabi, para Nabi tidaklah mewariskan dinar ataupun dirham, akan tetapi mewariskan ilmu, barangsiapa yang mengambilnya maka telah mengambil bagian yang banyak”. Ditambahkan lagi oleh sebuah nasehat emas dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib, “Ilmu itu lebih baik daripada harta, karena ilmu akan menjagamu sementara harta harus engkau jaga. Ilmu akan terus bertambah dan berkembang dengan diamalkan sementara harta akan terkurangi dengan penggunaan. Dan mencintai seorang yang berilmu adalah agama yang dipegangi. Ilmu akan membawa pemiliknya untuk berbuat taat selama hidupnya dan akan meninggalkan nama yang harum setelah matinya. Sementara orang yang memiliki harta akan hilang seiring dengan hilangnya harta. Pengumpul harta itu seakan telah mati padahal sebenarnya dia masih hidup. Sementara orang yang berilmu akan tetap hidup sepanjang masa. Jasad-jasad mereka telah tiada, namun mereka tetap ada di hati manusia.” (dinukil dari Min Washaya As-Salaf, hal. 13-14). Maka untukmu para ayah dan ibu, hendaklah menjadikan sebuah sarana wisata baru mereka ialah dengan duduk di majelis ilmu, bukan berhamburan menuju tempat penuh kemaksiatan sehingga tersajilah pemandangan bagi keluarga sesuatu yang diharamkan. Menuju majelis ilmu adalah sebuah tempat yang senantiasa penuh dengan pilihan jitu, repot sedikit tapi menghasilkan manfaat banyak. Bersabarlah, semangatlah, dan beristiqomahlah. Semoga Allah membalas semua langkah kaki kita yang ditujukan untuk mengambil warisan para Nabi itu, wallahu ‘alam bi shawwab..
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
|||||||
| Last Updated ( Wednesday, 18 February 2009 ) | |||||||
| < Prev | Next > |
|---|













