Pengumuman
- Diperbolehkan bagi temen-temen untuk mengutip seluruh isi artikel di dalam situs ini untuk tujuan kebaikan dan WAJIB untuk mencantumkan NAMA PENULIS dan SUMBERNYA.
- Bagi yang mengisi comment ataupun guestbook, diharuskan mencantumkan nama dan identitas. Jika tidak maka comment kamu akan saya delete tanpa konfirmasi.
- Bagi yang mengisi comment ataupun guestbook, cukup mengisi sekali saja. Karena setiap comment harus dimoderasi, jadi nggak ditampilkan terlebih dahulu.
- Buat teman-teman yang ingin buat blog sendiri, kami juga menawarkan Hosting Gratis. So, buat yang pengen apply, silahkan pelajari lebih lanjut dengan membuka menu : Hosting Gratis pada menu di atas/
Mutiara 'Ilmu
| Abdul Aziz bin Umar berkata, Ayahku pernah berkata: "Anakku, jika engkau mendengar ucapan dari seorang muslim, maka janganlah memahaminya secara negatif selama masih ada kemungkinan untuk dipahami secara positif." (Hilyatul Auliyaa 5/278) |
| Sebuah Tangisan Terlahir dari Al Quran |
|
|
|
| Written by Didit Fitriawan | |||||||
| Monday, 29 December 2008 | |||||||
|
Teman – teman yang baik, semoga Allah ta’ala senantiasa menjaga kita dalam naungan-Nya di setiap hela nafas dan sejauh pandangan mata. Sebuah cerita nyata nan indah, telah datang menghiasi hari - hari kita. Di mana ada seorang sahabat mulia ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu 'anhu berkisah: “Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepadaku, ‘Bacakanlah Al-Qur`an untukku.’ Aku bertanya heran, ‘Wahai Rasulullah, apakah aku membacakan untukmu sementara Al-Qur`an itu diturunkan kepadamu?’ Beliau menjawab, ‘Iya, bacalah.’ Aku pun membaca surat An-Nisa` hingga sampai pada ayat: “Maka bagaimanakah jika Kami mendatangkan seorang saksi bagi setiap umat dan Kami mendatangkanmu sebagai saksi atas mereka itu.” (QS. An-Nisa’: 41) Beliau bersabda, ‘Cukuplah.’ Aku menengok ke arah beliau, ternyata aku dapati kedua mata beliau basah berlinang air mata.” (HR. Al-Bukhari no. 5050) SUBHANALLAH…!
Perhatikan wahai teman, seorang yang Allah telah berikan ampunan - ampunan dosa baginya, seorang yang al quran turun padanya, seorang yang telah ma’sumkan perkataan dan perbuatannya, ternyata masih bisa dan sanggup meneteskan air mata tatkala Firman - Firman Ar Rahman dilantunkan… Bagaimana pula dengan kita…??? Padahal…andai kita mengetahui betapa baik dan utamanya seorang yang menangis karena takut dan terenyuh dalam lantunan alquran, maka tentu betapapun caranya…tentu kita akan berusaha menempuhnya. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri telah menganjurkan umatnya untuk khusyuk, menghinakan diri, dan menangis saat membaca Al-Qur`an karena takut kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Beliau bersabda: “Dua mata yang tidak akan disentuh oleh api neraka: (pertama) mata yang menangis karena takut kepada Allah, (kedua) mata yang bermalam dalam keadaan berjaga di jalan Allah.” (HR. At-Tirmidzi no. 1639, shahih dlm buku Al-Misykah no. 3829) Wahai ikhwan… Lihatlah, betapa para salaf yang shalih telah takut sebagaimana ketakutan seorang hamba kepada Rabb-nya… Dan tidaklah ketakutan mereka atas azab dan murka Allah, terlukis dari bagaimana mereka membaca ayat demi ayat pada al quran. Lihatlah Abu Bakr ash Shiddiq –radliyallahu’anhu- Ketika beliau masih di Makkah, beliau sempat membangun tempat shalat di halaman rumahnya. Beliau shalat di tempat tersebut dan membaca Al-Qur`an, hingga membuat wanita-wanita musyrikin dan anak-anak mereka berkumpul di sekitarnya karena heran dan takjub melihat apa yang dilakukan Abu Bakr. Sementara Abu Bakr radhiyallahu 'anhu adalah sosok insan yang sering menangis, tidak dapat menahan air matanya saat membaca Al-Qur`an. (termaktub dlm HR. Al-Bukhari no. 3905) Lihatlah Umar ‘ibn Khaththab –radliyallahu’anhu- Beliau shalat mengimami manusia dan menangis saat membaca Al-Qur`an dalam shalatnya, hingga bacaannya terhenti dan isaknya terdengar sampai shaf ketiga di belakangnya. Beliau membaca ayat: “Celakalah orang-orang yang berbuat curang.” Dan hingga sampai pada sebuah ayat… “Pada hari manusia berdiri di hadapan Rabb semesta alam.” (QS. Al Muthaffifin : 06) Dan keadaan ini, telah dijelaskan oleh Al-Qurthubi rahimahullah dalam perkataan beliau: “Allah Subhanahu wa Ta'ala memuji orang-orang yang menangis karena membaca/mendengar bacaan Al-Qur`an ketika mengabarkan tentang para nabi dan para wali-Nya: “Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya, apabila Al-Qur`an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur di atas wajah mereka sujud kepada Allah, seraya berkata: ‘Maha suci Rabb kami, sesungguhnya janji Rabb kami pasti dipenuhi’.” (QS. Al-Isra`: 107-108) Kemudian… “Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Ar-Rahman, mereka tersungkur dalam keadaan sujud dan menangis.” (QS. Maryam: 58) Dan… “Dan mereka menyungkur di atas wajah mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk.” (QS. Al-Isra`: 109) Lihatlah pula Abdullah ibnu ‘Abbas –radliyallahu’anhuma- Bahwa di bawah kedua matanya ada garis semisal tali sandal yang usang karena sering dialiri air mata. (termaktub dlm Siyar A’lamin Nubala`, 3/352) Demikianlah keadaan generasi terbaik ummat ini, orang-orang shalih dan orang-orang terbaik dari kalangan umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bila salah seorang di antara mereka membaca tentang ayat – ayat tentang neraka, maka hatinya seakan – akan lepas karena timbul rasa takut dari neraka serta kekhawatiran akan siksanya. Dan jika salah seorang di antara mereka membaca ayat – ayat tentang surga dan kenikmatannya, serasa gemetar persendian mereka karena khawatir diharamkan dari merasakan kenikmatannya yang kekal. Dua keadaan ini demikian memberi pengaruh bagi mereka, hingga meneteslah air matanya dan khusyuk hatinya. Namun mereka-pun berusaha menyembunyikan tangisan itu dari orang-orang di sekitarnya. Serta tak jarang tangis itu terdengar dan mereka pun tahu keadaannya. Demikianlah tangis karena takut kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan amal yang ikhlas karena mengharap wajah-Nya. Wahai ikhwan, dengarkan… Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah berkata: “Orang-orang sebelum kalian memandang Al-Qur`an sebagai surat-surat dari Rabb mereka. Mereka pun mentadabburinya pada waktu malam dan merealisasikannya di waktu siang.” (At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur`an, hal. 44) Maka saudaraku, mari bersama kita rasakan manisnya alquran dalam tangisan syahdu serta berharap akan ampunan – ampunan Allah ‘azza wa jallan akan datang …
Ditulis di tengah malam Kota Sidoarjo , 28 Desember 2008 / 1 Muharram 1430 H, Didit Fitriawan.
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
|||||||
| Last Updated ( Monday, 02 November 2009 ) | |||||||
| < Prev | Next > |
|---|







orang