Pengumuman
- Diperbolehkan bagi temen-temen untuk mengutip seluruh isi artikel di dalam situs ini untuk tujuan kebaikan dan WAJIB untuk mencantumkan NAMA PENULIS dan SUMBERNYA.
- Bagi yang mengisi comment ataupun guestbook, diharuskan mencantumkan nama dan identitas. Jika tidak maka comment kamu akan saya delete tanpa konfirmasi.
- Bagi yang mengisi comment ataupun guestbook, cukup mengisi sekali saja. Karena setiap comment harus dimoderasi, jadi nggak ditampilkan terlebih dahulu.
- Buat teman-teman yang ingin buat blog sendiri, kami juga menawarkan Hosting Gratis. So, buat yang pengen apply, silahkan pelajari lebih lanjut dengan membuka menu : Hosting Gratis pada menu di atas/
Mutiara 'Ilmu
| Syumaith berkata: "Seburuk-buruk hamba adalah hamba yang diciptakan untuk beribadah, lalu syahwatnya menghalanginya untuk beribadah. Seburuk-buruk hamba adalah hamba yang diciptakan untuk masa depan, lalu masa kininya menghalanginya untuk mencapai masa depan. Akibatnya masa kininya lenyap dan ia sengsara di masa depannya." (Hilyatul Auliyaa 3/129) |
| Sudah Tua Ikut Pilkada |
|
|
|
| Written by Rizki Aji | |||||||||||||||||||||||||||||||
| Saturday, 06 December 2008 | |||||||||||||||||||||||||||||||
|
Demokrasi, kata yang tidak asing ditelinga sebagian besar penduduk Indonesia, demokrasi sebuah kata penuh makna bercampur-baur dengan substansi penuh cerita dibaliknya. Dan kini masyarakat Indonesia dijejali dengan macam modifikasi demokrasi yang tidak terjadi di negeri asalnya. Demokrasi dengan jargon vox populi, vox dei (suara rakyat, suara Tuhan) telah merubah tatanan kehidupan antar bangsa dan etika bernegara. Akademisi beragumen demokrasi adalah sistem penyelamat atas kedzhaliman. Demokrasi pun telah berhasil menjungkalkan sistem nilai menjadi hakekat kebablasan. Demokrasi sangat identik dengan pemilihan suara secara langsung, siapapun berhak menyuarakan opini dan aspirasinya sebagai bentuk apresiasi dari nilai kebebasan. Hak penuh adalah ditangan rakyat, rakyat berhak menyuarakan apa yang diinginkan, dan rakyat pula berhak menggugat ketika haknya dirampas. Antara ulama dan pelacur memiliki kesamaan dalam aspirasinya diranah demokrasi ini, satu suara ulama sama dengan satu suara bajingan.
Masyarakat yang menjadi hobi masuk ke bilik suara untuk memilih pemimpin daerahnya. Dari jabatan kepala negara hingga ketua rukun tetangga pun didesain bernuansa ala demokrasi dan itu memang asas demokrasi, dari rakyat, untuk rakyat, oleh rakyat. Sehingga seluruh daerah di negeri ini menjadi sangat antusias agar sistem penunjukan seseorang menjadi pemerintah berwenang adalah atas keinginan rakyat. Rakyat berhak memilih, rakyat pula berhak mencalonkan. Suatu kondisi yang akan menjadi sangat carut-marut mengingat realita kebanyakan di negeri ini acap kali pemilihan digelar, seketika itu pula menuai sengketa. Kecurangan, ketidaksahan, dan segala macam skandal menjadikan para pendukung pasangan calon pemimpin dimana notabene mereka sebagian besar adalah muslim dengan muslim yang lainnya saling serang baku hantam, adu sikut dan saling sakit. Pihak yang kalah kecewa dan pihak yang menang sumringah, dan rakyat pun ditinggalkan setelah sebulan masa kampanye dijilati dengan bersimbah pamrih. Demokrasi sistem yang jauh dari nilai keikhlasan, sistem yang mencelakakan dibandingkan tabrakan beruntun tol cipularang, sistem yang menyesakkan dibandingkan pengidap pneumonia akut, bahkan lebih membunuh dibandingkan kasus potongan tubuh di bis serta septic tank. Salah satu dari sekian banyak fenomena demokrasi yang ada di negeri ini adalah munculnya para calon pemimpin berusia tua. Calon pemimpin-pemimpin yang awalnya sungguh sama sekali tidak dikenal dengan siapa yang akan menjadi konstituennya, calon pemimpin-pemimpin yang disulap bagaikan arwah gentayangan dengan stiker, spanduk, banner, di sepanjang kawasan publik dan ruang terbuka agar dapat dilihat banyak orang. Calon pemimpin yang tanpa malu berkunjung kedaerah kusam dengan jargon simpati, peduli, berbagi, dan anti korupsi menjadikan pajangan tersendiri disetiap daerah yang akan mengadakan perhelatan hajatan massal demokrasi. Calon pemimpin berusia tua yang seharusnya mereka cukup dirumah saja membenahi keluarganya agar jangan seperti dirinya saat masa muda. Lihatlah, betapa banyak mereka yang usia tua tersebut tidak mampu membenahi keluarganya, lantas bagaimana bisa ia membenahi negara. Padahal setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya dihadapan Allah atas apa yang ia pimpin. “Masing-masing kalian adalah pemimpin dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Pimpinan negara adalah pemimpin, dan akan ditanya tentang rakyatnya. Seorang kepala runah tangga adalah pemimpin bagi keluarganya dan akan ditanya tentang anggota keluarganya. Seorang pembantu adalah orang yang bertanggung jawab tentang harta tuannya dan akan ditanya tentang yang dipimpinnya. Maka masing-masing kalian adalah pemimpin dan akan ditanya tentang siapa yang dipimpinnya.” (Muttafaqun ‘alayh hadits dari Ibnu Umar). Betapa banyak bukan dalam skalanya seseorang tidak mampu memimpin dirinya dengan baik. Tidak bisa menjadi atasan yang sempurna bagi keluarganya. Bagi besannya, mertuanya, orang tuanya tidak bisa menjadi sosok yang senantiasa menegakkan amar ma’ruf serta nahi munkar. Lha ini kok, malah sebagian besar potong kompas ingin menjadi pemimpin bagi daerahnya. Dengan slogan saatnya putra daerah memimpin daerahnya, nampaknya slogan yang harus diganti dengan saatnya seseorang yang telah memiliki cucu putra membenahi keluarganya! Kita tidak menyangkal bahwa diantara mereka pun menjadi calon-calon generasi tua atas alasan pilihan rakyatnya, atas dasar dorongan dari warganya, dan atas dasar panggilan hati untuk membenahi. Sebuah niat yang mulia namun betapa mereka tidak banyak punya keinginan yang sebagian besar diantaranya tanpa dicita-citakan berada disana, yakni bercita-cita setelah jabatan usai ia bisa merasakan dinginnya bilik penjara. Usia tua justru dihabiskan untuk menebus dosa kepada rakyatnya di penjara, sedangkan saat muda ia tidak punya bekal tabungan penuh pahala. Berrakit-rakit ke hulu berenang-renang ketepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. “Barangsiapa yang menyukai dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung hubungan silaturahim.” (HR. Bukhari-Muslim)
Sudah Tua Ikut Pilkada Mohon doa restu dan dukungannya, sebuah pesan yang terus-menerus disampaikan oleh para kandidat calon pemimpin, usia tua seakan tak menjadi masalah untuk menjadi pemimpin, dengan alasan yang tua banyak pengalamannya mereka mantap nawaitu maju menuju ke kursi RI 1 dan semisalnya. Pelajaran dari kawan-kawannya para pemimpin sebelumnya tidak membuat mereka jera, justru mereka menginginkan lebih dari sekedar jera seperti pendahulunya. Disaat dinding penjara lebih hangat dibanding bilik sebuah musholla. Kejutan dunia lebih dicinta daripada bersegera menyiasati diri cara cepat menuju surga. Sudah tua ikut pilkada, sebuah tema besar yang harus diperhatikan lagi penempatan lokasinya. Dalam salah satu firmanNya, Allah subhanahu wa ta’ala mencela kehidupan orang Yahudi yang berangan-angan dapat memiliki umur panjang, bahkan diantaranya menginginkan umur 1000 tahun, “Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya daripada siksa. Allah Maha mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al Baqarah : 96). Anehnya calon pemimpin berusia tua menginginkan memiliki umur panjang agar bisa terus memimpin setelah periode jabatan pertama selesai, diantara mereka pasang strategi lagi menjadi pemimpin periode kedua bernafaskan incumbent. Ratusan juta telah disiapkan untuk skala bupati, dan puluhan milyar sudah didepositokan direkening tersendiri dengan nama rekening “Untuk Saya Bagi Negara.” Mereka lebih senang ikut berjudi padahal diantara mereka adalah orang-orang yang gajinya dibiayai oleh rakyat, hartanya dijadikan taruhan dan bahkan istri serta keluarganya dijadikan jaminan. Istrinya dianjurkan untuk sering-sering meninjau ke pasar, rumah sakit, kawasan kumuh, tempat pembuangan akhir sampah, daerah bencana dan aktif di kegiatan kewanitaan. Sedangkan anak-anak mereka dibuatkan stasiun radio, disarankan agar berpacaran dengan selebriti papan atas, dan menuai sensasi kebaikan dengan polesan kesempurnaan bernama bakti sosial bersama para pemuda. Tak cukup itu, tim sukses yang telah dibayar mahal pun siap memenangkan dengan sekuat tenaga, dari main cerdik hingga main picik. Lantas bagaimana bisa jika sebelum memimpin saja manuver yang dilakukan adalah manuver kepamrihan. Berbuat kebaikan agar mendapatkan dukungan. Sungguh sangat jauh sekali dari nilai-nilai yang dicontohkan teladan mereka yang diingat ketika perayaan undangan maulid nabi. Padahal Rasulullah shallahu ‘alayhi wa sallam sendiri berpesan kepada seorang lelaki yang bertanya dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Abu Bakrah radhiyallohu anhu. Bahwa seorang lelaki bertanya kepada Nabi, “Wahai Rasul, manusia yang manakah yang paling baik?” Rasulullah bersabda, “Orang yang panjang umurnya dan baik amalnya.” Kemudian orang itu bertanya lagi, “Wahai Rasul, manusia yang bagaimanakah yang paling jelek?” Rasulullah shalalahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Orang yang panjang umurnya namun buruk amalnya.” (HR. Ahmad, At Tirmidzi, Ath Thabrani dan Al Hakim. Dishahihkan oleh Asy Syaikh Albani dalam Shahihul Jami’). Sebagian dari mereka telah berusia senja disaat mencalonkan dirinya, usia yang jauh dari harapan pembenahan atas rakyat yang akan dipimpinnya. Jika semenjak ia menikah saja ia tidak dapat mendidik dan mengasuh keluarganya dengan baik, lantas apakah bisa ia mengasuh jutaan manusia dibawah pola pendidikan keluarganya yang senantiasa salah. Seandainya mereka paham bahwa umur seseorang itu adalah terbatas dan merupakan rahasia dari Allah Ta’ala. Bahkan yang ada justru Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Umur umatku berkisar antara 60 hingga 70 tahun, dan sangat sedikit diantara mereka yang mencapai usia itu.” (HR. At Tirmidzi dan dishahhihkan oleh Asy Syaikh Albani dalam Shahihul Jami’). Tak sedikit pula diantara mereka beranggapan, dengan menjadi seorang pemimpin kelak. Mereka dapat membantu masyarakat tertindas, memberikan manfaat yang banyak, serta menginginkan kebaikan dan kebahagiaan yang banyak terhadap masyarakat dibawah kepemimpinannya. Namun sungguh sangat berbeda dengan apa yang terjadi, jika seorang Umar bin Khaththab saat memimpinnya dan ia mengetahui ada seekor domba terpeleset di wilayah yang menjadi kekuasaanya saja ia sangat bertanggung jawab atas terpelesetnya domba tersebut, namun dimasa kini justru dengan wilayah kekuasaan yang lebih kecil dibandingkan Umar bin Khaththab tidak dapat memperbaiki jalanan rusak yang menjadi bagian dari kekuasannya, sehingga tak jarang jalan rusak tersebut menimbulkan kecelakaan serta mendapatkan sumpah serapah berupa cacian dari mereka yang terdzhalimi atas kerusakan jalan tersebut. Jika anda mengatakan, “saya bukanlah seperti Umar bin Khaththab” mengapa anda tetap ngotot memaksakan menjadi pemimpin! Ketahuilah, engkau bisa memberikan manfaat di usia tuamu dengan tanpa mengikuti pemilihan kepala daerah layaknya kontes kecantikan ratu sejagat. Karena Rasulullah shalalahu ‘alayhi wa sallam pun telah mengabarkan bagaimana memberikan manfaat kepada banyak orang dalam sabdanya, “Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang memberikan manfaat kepada manusia lainnya, dan amalan paling dicintai oleh Allah adalah membahagiakan seorang muslim, atau meringankan bebannya, melunasi hutang yang melilitnya, atau menepis kelaparannya. Berjalan bersama seorang muslim untuk memenuhi kebutuhannya lebih aku sukai daripada beritikaf di masjid ini (masjid Nabawiy) selama satu bulan. Barangsiapa menahan amarahnya niscaya Allah menutupi aibnya, dan barang siapa sanggup menahan amarahnya padahal ia berhak untuk meluapkan rasa amarahnya, maka Allah penuhi hatinya dengan keridhaan-Nya kelak dihari kiamat, dan barangsiapa yang berjalan bersama saudara muslimnya lalu dapat memenuhi kebutuhan serta menguatkannya, maka Allah akan menguatkan pijakannya di hari ketika kaki-kaki manusia tergelincir. Dan sungguh akhlak yang tercela itu dapat merusak amalan seperti halnya cuka merusak madu.” (HR. Ath Thabrani, dihasankan oleh Asy Syaikh Albani dalam Silsilah Hadits Ash Shahihah: 906). Atau dalam sabda Rasulullah yang lain, “orang yang membantu wanita janda dan orang miskin, maka ia seperti mujahid di jalan Allah Ta’ala, atau seperti orang yang shalat malam tanpa merasa lelah, atau seperti orang yang shaum tanpa henti.” (Mutatfaqun Alayh). Jadi janganlah saudaraku membungkus maksud pribadi dengan membawa amanah rakyat. Rakyat yang mana? Siapa mereka? Dan untuk apa?. Seringkali jargon menginginkan kekayaan pribadi ditutup dengan tampilan menarik. Seperti tong sampah dipusat perbelanjaan, dengan tampilan menarik membuat orang senang didekatnya, namun takkala tutupnya dibuka, segeralah kebusukan itu tercium aromanya dan tumpukkan kotoran itu terlihat berantakannya. Kalian sudah tua, berbekallah untuk kehidupan yang mulia dan kematian yang bahagia. Jangan menykisa diri menjadi pimpinan padahal anda adalah orang yang tak pantas untuk memegangnya. Sungguh suatu perkara pasti akan binasa jika ia tidak dipegang oleh orang yang paham dan memiliki kemampuan atasnya. Bukankah seorang pawang ular berbeda dengan pawang anjing dalam hal keahlian yang mereka miliki, bagaimana mungkin pawang ular dapat menjinakkan anjing dan sebaliknya sekalipun keduanya sama-sama memiliki bisa yang mematikan. Sungguh apa yang dilakukan oleh Abu Bakar Ash Shiddiq sangatlah mulia sekalipun ia telah menjadi khalifah. Ia tidak membiarkan perutnya gendut dan hartanya berlimpah, ia hanya menginginkan hidupnya tak mengalami perubahan sebelum dan disaat menjadi khalifah. Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallohu ‘anhu sebelumnya seringkali memerah susu dari domba-domba yang dimiliki masyarakat sekitarnya. Ketika beliau diangkat menjadi khalifah, salah seorang wanita pemerah susu berkata, “Sekarang ia pasti tidak akan mau memerah susu lagi.” Maka Abu Bakar berkata, “Tidak demikian. Akan tetapi aku berharap keberadaanku sebagai seorang khalifah tidak mengubah apapun yang pernah aku kerjakan sebelum menjadi seorang khalifah.” (Jami’ Al Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hanbali : 2/295).
Antara Abu Hazim dan Sulaiman bin Abdul Malik Ketika Sulaiman bin Abdul Malik tiba di Madinah dalam perjalanannya menuju Makkah, ia mengutus utusan untuk mengundang seorang ulama dari penduduk Madinah yaitu Abu Hazim. Setelah Abu Hazim berada dihadapannya, Sulaiman berkata, “Wahai Abu Hazim, kenapa kami takut mati?” Abu Hazim menjawab, “Karena kalian telah menghancurkan akhirat kalian dan membangun dunia kalian, sehingga kalian benci untuk berpindah dari negeri kemakmuran ke negeri kehancuran.” Sulaiman berkata, “Bagaimana tentang menghadap Allah Ta’ala?” Abu Hazim menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, adapun seorang yang beramal shalih, dia seperti seorang yang bepergian, yang akan kembali kepada keluarganya. Adapun seorang yang beramal buruk, dia seperti budak pelarian yang akan kembali kepada tuannya.” Sulaiman menangis dan berkata, “Rugilah aku, apa yang akan aku dapatkan di sisi Allah?” abu Hazim pun menjawab,”Hadapkan dirimu terhadap Kitabullah yang mana Allah berfirman, ‘Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam syurga yang penuh kenikmatan, Dan Sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka.’ (QS. Al Infithar : 13-14). Sulaiman pun berkata lagi, “Dimana rahmat Allah?” abu Hazim menjawab, “Rahmat Allah dekat dengan orang-orang yang berbuat kebaikan.” Sulaiman berkata kembali, “Wahai Abu Hazim, siapakah diantara hamba-hamba Allah yang paling mulia?” Abu Hazim menjawab, “Orang-orang yang beramal kebajikan dan bertakwa.” Sulaiman kembali bertanya, “Amalan apa yang paling utama?” Abu Hazim menjawab, “Melaksanakan amalan-amalan wajib dan meninggalkan perbuatan-perbuatan haram.” Sulaiman kembali berkata, “Perkataan apa yang harus saya dengar?” Abu Hazim menjawab, “Perkataan kebenaran di sisi Dzat yang kamu takuti dan kamu harapkan.” Sulaiman berkata, “Siapakah diantara kaum mukminin yang paling rugi?” Abu Hazim kembali menjawab, “Seseorang yang salah dalam mengikuti hawa nafsu saudaranya padahal saudaranya seorang yang dzalim, sehingga dia menjual akhiratnya dengan dunianya.” Sulaiman bertanya lagi, “Bagaimanakah pendaatmu dengan apa yang kami diatasnya?” Abu Hazim menjawab, “Bolehkan aku untuk tidak menjawabnya?” Sulaiman berkata, “Harus kamu katakan, karena ini adalah nasihat yang kamu sampaikan kepadaku.” Abu Hazim berkata, “Sesungguhnya leluhurmu telah menguasai manusia dengan pedang dan mengambil kekuasaan ini dengan paksa tanpa ada musyawarah dari kaum muslimin dan tanpa keridhaan mereka, sehingga mereka membunuh kaum muslimin dalam jumlah yang sangat besar. Sekarang leluhurmu telah tiada, sehingga kamu tidak tahu tentang apa yang manusia katakan tentang mereka.” Seseorang yang berada ditengah-tengah majeis mereka mengucapkan kepada Abu Hazim, “Sungguh buruk apa yang kamu ucapkan!” Abu Hazim berkata, “Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mengambil perjanjian dari para ulama untuk menyampaikan kebenaran kepada manusia dan tidak menutup-nutupinya.” Sulaiman berkata, “Wahai Abu Hazim, bagaimana agar kami baik di hadpaan manusia?” Abu Hazim berkata, “Kamu meninggalkan kejelekan, berpegang kepada tali Allah dan membagi (harta) dengan adil.” Sulaiman berkata, “Bagaimana membagi (harta) dengan adil?” Abu Hazim berkata, “Kamu mengambil harta dengan kebenaran (dari tempatnya) dan memberikannya kepada orang yang berhak mendapatkannya.” Sulaiman berkata, “Wahai Abu Hazim, sampaikan kepadaku segala kebutuhanmu.” Abu Hazim berkata, “Kamu selamatkan aku dari neraka dan kamu masukkan aku ke dalam jannah.” Lantas Sulaiman berkata, “Hal itu bukanlah berada dibawah kekuasaanku.” Abu Hazim menjawab dengan lugas, “Aku tidak butuh selain itu.” Kemudian Abu Hazim meninggalkan Sulaiman. Maka Sulaiman mengirimkan seratus dinar kepada Abu Hazim, akan tetapi Abu Hazim mengembalikannya kepada Sulaiman dan tidak mau menerimanya. (kisah ini terdapat dalam Wafiyyatul A’yaan, 2/423. penulis mengambilnya dari buku Mahkota Diatas Sajadah terbitan At Tibyan, hal 44-47). Abu Hazim dan Sulaiman bin Abdul Malik, potret percakapan yang sudah sangat jarang sekali ditemukan, ketika pintu-pintu rumah para pemimpin saat ini membutuhkan para ulama yang sejalan dengan mereka dan mau mereka cunguk hidungnya menuruti nafsu penguasa, tidaklah lagi ada pemimpin yang menginginkan dikoreksi, sebab pemimpinnya lebih tua dari ustadznya. Sehingga ustadzlah yang harus menemui pemimpin tua itu, bukan pemimpin tua menemui sang ustadz tuk dimintai nasehatnya. Potret realitany adalah, ustadz disuruh berkampanye atas si calon tua itu dengan garansi pondok pesantren megah dan akses kehidupan bagi dirinya asal mau berkomunikasi efektif untuk memenangkan si bakal pemimpin daerah dari golongan tua. Wallahu ‘Alam bi Shawwab
*Satu hari sebelum jamaah haji wukuf*
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
|||||||||||||||||||||||||||||||
| Last Updated ( Monday, 22 December 2008 ) | |||||||||||||||||||||||||||||||
| < Prev | Next > |
|---|








