Mutiara 'Ilmu
| Abdul Aziz bin Umar berkata, Ayahku pernah berkata: "Anakku, jika engkau mendengar ucapan dari seorang muslim, maka janganlah memahaminya secara negatif selama masih ada kemungkinan untuk dipahami secara positif." (Hilyatul Auliyaa 5/278) |
Pengumuman
- Bagi yang mengisi comment ataupun guestbook, diharuskan mencantumkan nama dan identitas. Jika tidak maka comment antum akan saya delete tanpa confirm.
Terima kasih..... - Bagi yang mengisi comment ataupun guestbook, cukup mengisi sekali saja. Karena setiap comment harus dimoderasi, jadi tidak ditampilkan terlebih dahulu. ^_^
Kalender
|
| Dibalik Tirai Sebuah Canda… |
|
|
|
| Written by Didit Fitriawan | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Friday, 25 July 2008 | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
(sekedar contoh) “Eh tahu gak, setiap jumat di rumah sakit itu selalu ada yang mati loh…Dan penyebabnya misterius…Dan dokterpun ga ada yang tahu…” celetuk Fulan pada teman - temannya. “Eh, masa? Emang kamu tahu penyebabnya?” tanya temannya. “Halah…ternyata tiap jumat itu ada si cleaning service yang dengan entengnya nyabutin stop kontak alat nafas pasien dan menggantinya dengan vacuum cleaner, mulai deh…” tukas Fulan yang serentak diringi gelak tawa teman – temannya… -------------------------------- Ya…itulah bercanda. Canda memang dapat menghibur, mencairkan suasana, menghilangkan ketegangan, menenangkan keresahan dan meredakan amarah. Bahkan, tak jarang di dalam setiap canda yang kita berikan akan tercermin rasa persaudaraan dan persahabatan yang seakan penuh keakraban… Di satu sisi, canda yang dapat membuat orang lain senang dapat disebut sebagai kebaikan karena Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam mengisyaratkan dalam haditsnya bahwasanya senyum yang dengannya orang menjadi senang adalah suatu kebaikan. Beliau bersabda, “Senyummu untuk saudaramu, adalah shadaqah bagimu…” (HR. At Tirmidzi, 328/1956) Namun seperti apakah canda yang dicontohkan oleh panutan kita yang mulia, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam…??? Apakah seperti canda kita…??? Suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertemu dengan Abu Umair, adik dari sahabat Anas ibnu Malik-radliyallahu’anhu- ketika ia masih anak-anak. Beliau kemudian mencandainya tentang anak burung yang ia pelihara… “Abu Umair, apa yang dilakukan anak burungmu?” Demikian beliau memberikan canda dan senyuman kepada Abu Umair… Lihatlah apa yang dikutip ahli hadits Imam Abu Dawud. Beliau meriwayatkan, ada seseorang mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian berkata, “Ya Rasulullah, sertakan-lah saya,” pintanya, “Kami akan membawamu (naik) di atas anak unta,” jawab Nabi, “Apa yang dapat aku lakukan dengan anak unta?”, tanyanya kebingungan (karena tak banyak yang bias dilakukan oleh anak unta). Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Bukankah unta dewasa itu adalah anak unta juga.” (HR. At Tirmidzi). Subhanallah…canda segar ini-lah yang akan menimbulkan senyuman – senyuman manis dari orang – orang di sekitar kita serta menjadikan pergaulan serasa hangat dan penuh keindahan… Bahkan ada diantara sahabat yang mulia ada yang sangat suka dengan bercanda sehingga Imam Ibnu ‘Abdil Barr mensifati sahabat dalam bukunya Al Isti’ab 4/1526 sebagai seorang pecanda…Beliau adalah Nu’aiman Ibnu ‘Amr bin Rifa’ah. Meskipun disifati sebagai seorang pecanda, namun keimanan para sahabat tetap-lah kokoh dan setinggi gunung, demikian-lah yang dikatakan oleh Abdullah ibnu ‘Umar –radliyallahu’anhuma-
BEBERAPA KETENTUAN DI DALAM BERCANDA Bercanda dibolehkan selama sesuai dengan syari’at. Hal-hal di bawah ini perlu diperhatikan, agar bercanda tidak berbalik menjadi dosa, sebagai berikut:
Kemudian…simaklah pesan Imam An-Nawawi tentang bercanda, bahwasannya bercanda yang dilarang adalah canda yang berlebihan dan dijadikan sebagai kebiasaan yang dapat menyebabkan orang - orang banyak tertawa. Sedangkan banyak tertawa dapat memadamkan cahaya hati. Kadangkala bercanda (yang demikian), akan berakhir dengan cacian, cemoohan, menanamkan dendam dan memudarnya kewibawaan. Canda yang dilakukan Nabi adalah bercanda yang bersih dari sifat-sifat di atas (al Adzkar/468) Dimulai sejak huruf ini tertulis, kami pribadi berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar dilindungi dari canda dengan sifat – sifat yang bisa merendahkan…dan tidak memuliakan… Wallahu a’lam
Powered by !JoomlaComment 3.21
3.21 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Last Updated ( Sunday, 27 July 2008 ) | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Next > |
|---|
Data PengunjungIP Kamu 38.103.63.58 Browser Sistem Operasi |






orang



