Sobat Muda

NOTE: To use the advanced features of this site you need javascript turned on.

Home arrow Puisi

Pengumuman

  • Diperbolehkan bagi temen-temen untuk mengutip seluruh isi artikel di dalam situs ini untuk tujuan kebaikan dan WAJIB untuk mencantumkan NAMA PENULIS dan SUMBERNYA.
  • Bagi yang mengisi comment ataupun guestbook, diharuskan mencantumkan nama dan identitas. Jika tidak maka comment kamu akan saya delete tanpa konfirmasi.
  • Bagi yang mengisi comment ataupun guestbook, cukup mengisi sekali saja. Karena setiap comment harus dimoderasi, jadi nggak ditampilkan terlebih dahulu.
  • Buat teman-teman yang ingin buat blog sendiri, kami juga menawarkan Hosting Gratis. So, buat yang pengen apply, silahkan pelajari lebih lanjut dengan membuka menu : Hosting Gratis pada menu di atas/

Mutiara 'Ilmu

Abdul Qadir Jailani rahimahullah menasihati anaknya: "Janganlah engkau jadikan pikiranmu hanya untuk berfikir tentang makan, minum, pakaian, menikah, dan tempat tinggal. Semua ini adalah keinginan hawa nafsu dan kerakusan. Manakah pikiranmu yang bersumber dari hati? Jadikanlah pikiranmu itu hanya untuk berpikir tentang Rabbmu 'azza wa jalla dan apa yang ada di sisi-Nya." (Uluww al-Himmah, hlm. 77)
 
Puisi
Putri Intan PDF Print E-mail
User Rating: / 1
Written by hik_mah   
Monday, 18 May 2009
putri
kau tak harus kehilangan kilau
kau adalah intan
yang takkan pernah hancur walau ditimpa seribu batu

putri
sadarkah engkau..
kau tak harus kehilangan ghirah
perjuanganmu tak kan meredup
larutkan kesedihanmu

putri
kau tahu dirimu tak harus kehilangan kilau
jadikan doamu pencurah rasa
sujudmu dekat dengan-Nya
air matamu penyuci jiwa
 
Untitled (bagian 2) PDF Print E-mail
User Rating: / 1
Written by Andita SB   
Saturday, 26 April 2008

Pelaminan

 

Cintaku padamu, abadi sepanjang jaman
Tak lebih tak kurang oleh alasan
Cintaku tak beralasan kecuali kenginan mencinta
Cintaku tak bersebab yang dimengerti manusia

Jika cintamu tak beralasan selain ia yang kau cinta
Maka ia nyata, tak kan lenyap selamanya
Jika cintamu digerakkan oleh suatu alasan
Maka ia akan hilang bersama hilangnya alasan

Last Updated ( Wednesday, 23 April 2008 )
 
Untitled (bagian 1) PDF Print E-mail
User Rating: / 0
Written by Andita SB   
Wednesday, 23 April 2008
Cincin
 
Kucintai engkau dengan tanpa keraguan di dalamnya
Padahal kebanyakan cinta hanyalah fatamorgana
Ingin kukatakan padamu dengan jelas dan tulus
Cintaku padamu terukir nyata dan halus

Jika dalam jiwaku tertanam kebencian
Kan kucabik seluruh tabir penutupnya dan kubuang
Sungguh! Tak ada yang kuingin darimu selain cinta
Sungguh! Tak ada yang kuucapkan padamu kecuali cinta

Saat kutenggelam dalam semudera cinta
Hamparan bumi seolah kering binasa
Manusia seumpama buih-buih di lautan
Penghuni mayapada seumpama debu beterbangan
 
  
Last Updated ( Wednesday, 23 April 2008 )
 
Akulah si Telaga PDF Print E-mail
User Rating: / 0
Written by Andita SB   
Wednesday, 23 April 2008

lake

 

akulah si telaga: berlayarlah di atasnya;
berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil yang menggerakkan bunga-bunga padma;
berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya;
sesampai di seberang sana, tinggalkan begitu saja
-- perahumu biar aku yang menjaganya 

 

karya :

Sapardi Djoko Damono

Perahu Kertas, Kumpulan Sajak, 1982

Last Updated ( Wednesday, 23 April 2008 )
 
Catatan 1 PDF Print E-mail
User Rating: / 1
Written by Andita SB   
Thursday, 17 April 2008
 
Kubuka jendela di pagi hari. Kupandangi langit yang luas tak berbatas. Kuraba hati, kembali. Mencoba mengais apa yang tersisa dari perjalanan kalam batin, enam bulan terakhir ini. Betapa susahnya menyelami hati yang seluas langit itu. Hati pun punya ruangan tak terbatas. Segalanya menjadi satu dalam sebuah medan, menggumpal dan berdesakan lalu meletuplah aneka rasa. Gelisah, kesendirian, kesunyian, duka, lara, hampa, derita, bahagia, kangen, rindu, cinta, dan segala macam istilah; menggores cerita tak habis-habis. Berderai tak ubahnya mata langit yang meneteskan hujan.

Masih sama, kalam batin ini tetap saja menjadi kutipan sejarah tentang seorang dirimu yang telah meniupkan nafas baru dalam perjalanan lelahku. Selama berbulan-bulan, kubertahan dengan menikmati apapun yang menjadi luapan hati, mencari-cari sedalam apa luapan itu menjelma menjadi tiga kata: gelisah, rindu, dan cinta. Meski menyiksa dan tetap memunculkan seribu tanya, tetap saja aku bersikukuh menjaganya dalam-dalam.
Pagi membawa pesan-pesan baru dari semesta. Udara yang diam begitu indah menghadirkan bola matahari dengan kemuning sinarnya. Untung di teras rumah, ada dua batang pohon rindang yang menahan gerak laju teriknya. Semilir angin yang datang pun, terasa begitu menyejukkan. Benarkah pagi selalu menjadi tonggak baru dari sebuah awal yang indah atau sebaliknya?

Last Updated ( Wednesday, 23 April 2008 )
Read more...