|
Written by Andita SB
|
|
Saturday, 26 April 2008 |
|

Cintaku padamu, abadi sepanjang jaman Tak lebih tak kurang oleh alasan Cintaku tak beralasan kecuali kenginan mencinta Cintaku tak bersebab yang dimengerti manusia
Jika cintamu tak beralasan selain ia yang kau cinta Maka ia nyata, tak kan lenyap selamanya Jika cintamu digerakkan oleh suatu alasan Maka ia akan hilang bersama hilangnya alasan
|
|
Last Updated ( Wednesday, 23 April 2008 )
|
|
|
Written by Andita SB
|
|
Wednesday, 23 April 2008 |
|
Kucintai engkau dengan tanpa keraguan di dalamnya Padahal kebanyakan cinta hanyalah fatamorgana Ingin kukatakan padamu dengan jelas dan tulus Cintaku padamu terukir nyata dan halus
Jika dalam jiwaku tertanam kebencian Kan kucabik seluruh tabir penutupnya dan kubuang Sungguh! Tak ada yang kuingin darimu selain cinta Sungguh! Tak ada yang kuucapkan padamu kecuali cinta
Saat kutenggelam dalam semudera cinta Hamparan bumi seolah kering binasa Manusia seumpama buih-buih di lautan Penghuni mayapada seumpama debu beterbangan
|
|
Last Updated ( Wednesday, 23 April 2008 )
|
|
|
Written by Andita SB
|
|
Wednesday, 23 April 2008 |
|

akulah si telaga: berlayarlah di atasnya; berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil yang menggerakkan bunga-bunga padma; berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya; sesampai di seberang sana, tinggalkan begitu saja -- perahumu biar aku yang menjaganya karya : Sapardi Djoko Damono Perahu Kertas, Kumpulan Sajak, 1982
|
|
Last Updated ( Wednesday, 23 April 2008 )
|
|
|
Written by Andita SB
|
|
Thursday, 17 April 2008 |
|
Kubuka jendela di pagi hari. Kupandangi langit yang luas tak berbatas. Kuraba hati, kembali. Mencoba mengais apa yang tersisa dari perjalanan kalam batin, enam bulan terakhir ini. Betapa susahnya menyelami hati yang seluas langit itu. Hati pun punya ruangan tak terbatas. Segalanya menjadi satu dalam sebuah medan, menggumpal dan berdesakan lalu meletuplah aneka rasa. Gelisah, kesendirian, kesunyian, duka, lara, hampa, derita, bahagia, kangen, rindu, cinta, dan segala macam istilah; menggores cerita tak habis-habis. Berderai tak ubahnya mata langit yang meneteskan hujan. Masih sama, kalam batin ini tetap saja menjadi kutipan sejarah tentang seorang dirimu yang telah meniupkan nafas baru dalam perjalanan lelahku. Selama berbulan-bulan, kubertahan dengan menikmati apapun yang menjadi luapan hati, mencari-cari sedalam apa luapan itu menjelma menjadi tiga kata: gelisah, rindu, dan cinta. Meski menyiksa dan tetap memunculkan seribu tanya, tetap saja aku bersikukuh menjaganya dalam-dalam. Pagi membawa pesan-pesan baru dari semesta. Udara yang diam begitu indah menghadirkan bola matahari dengan kemuning sinarnya. Untung di teras rumah, ada dua batang pohon rindang yang menahan gerak laju teriknya. Semilir angin yang datang pun, terasa begitu menyejukkan. Benarkah pagi selalu menjadi tonggak baru dari sebuah awal yang indah atau sebaliknya?
|
|
Last Updated ( Wednesday, 23 April 2008 )
|
|
Read more...
|
|
|