|
|
Apakah Ibuku Seorang Pembantu? |
|
|
|
|
Written by Rizki Aji
|
|
Thursday, 03 July 2008 |
|
 Tidak akan ada lagi yang menyangkal bahwasanya madrasah pertama bagi seorang anak adalah dirumahnya. Dan kunci pendidikan tersebut selayaknya dipegang silabus panduannya oleh seorang ibu. Namun sungguh disaat seruan emansipasi dan gender bertiup kencang menyusul tajamnya arus demokrasi yang diikuti reformasi. Maka seakan semua itu sirna ditelan masa.
|
|
Read more...
|
|
|
Jangan Asal Kasih Nama...!! |
|
|
|
|
Written by Rizki Aji
|
|
Friday, 18 April 2008 |
|
Udah gak jadi sesuatu yang basi lagi kalo fenomena sekarang banyak orang punya nama aneh-aneh. Hal ini disebabkan mungkin dulu orang tuanya punya semangat tinggi agar nanti si anak punya nama yang ‘dirasa’ atau ‘dianggap’ bagus dan mengikuti perkembangan jaman, juga sekaligus enak didenger sekaligus trendi. Para ortu memberikan nama anak di jaman kini pun lebih heboh lagi, yang awalnya mungkin manusia dahulu gak terpikirkan ngasih nama anak dengan kalimat, sekarang justru malah merebak dimana-mana. Orang-orang bilang namanya punya ‘taste’ tersendiri, juga menyimbolkan bahwa kesan pertama yang terlintas ia berasal dari keluarga yang terpuji dikarenakan namanya yang punya arti dalam dan makna yang dahsyat walaupun gak sedikit juga yang tau kalo nama-nama itu diambil asal copy paste dari buku-buku yang marak menyajikan nama-nama indah buat si anak.
|
|
Last Updated ( Wednesday, 23 April 2008 )
|
|
Read more...
|
|
|
Jangan Sesali Kehadirannya |
|
|
|
|
Written by M. Bahron
|
|
Friday, 18 April 2008 |
|
Di masa jahiliyah, memperoleh atau melahirkan anak perempuan merupakan aib atau sesuatu yang sangat memalukan, padahal Allah ta’ala mencela perbuatan orang-orang jahiliyah itu melalui firman-Nya, “Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)?. Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (QS. an-Nahl : 58-59)
|
|
Last Updated ( Wednesday, 23 April 2008 )
|
|
Read more...
|
|
|
Dan Rabbmu, Agungkanlah...!!! |
|
|
|
|
Written by Andita SB
|
|
Monday, 24 March 2008 |
|
Di masjid Khaif, Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri ketika itu. Tempatnya di Mina. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memandang ribuan jama’ah yang datang untuk berhaji. Kemudian lisannya yang tidak pernah berdusta itu menyebutkan pujian kepada Allah, lalu memulai khutbahnya. “Wahai manusia,” sabda Rasulullah, “Dengarkan penjelasanku baik-baik, karena aku tidak tahu apakah aku masih berjumpa lagi dengan kalian di tempat ini pada tahun yang akan datang.” Bergetar suara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengucapkan kalimat itu. Ada isyarat perpisahan yang membuat para shahabat tak kuasa menahan air matanya. Mereka menangis. Mereka tak sanggup menahan kesedihan. Rasanya, tak lama lagi sahabat terbaik dan Nabi yang penuh kemuliaan itu akan pergi menghadap Allah ‘azza wa jalla. Karena itu, siapapun yang peka hatinya akan terisak disertai linangan air mata.
|
|
Last Updated ( Wednesday, 23 April 2008 )
|
|
Read more...
|
|
|