Sobat Muda

NOTE: To use the advanced features of this site you need javascript turned on.

Home arrow Gaul

Pengumuman

  • Diperbolehkan bagi temen-temen untuk mengutip seluruh isi artikel di dalam situs ini untuk tujuan kebaikan dan WAJIB untuk mencantumkan NAMA PENULIS dan SUMBERNYA.
  • Bagi yang mengisi comment ataupun guestbook, diharuskan mencantumkan nama dan identitas. Jika tidak maka comment kamu akan saya delete tanpa konfirmasi.
  • Bagi yang mengisi comment ataupun guestbook, cukup mengisi sekali saja. Karena setiap comment harus dimoderasi, jadi nggak ditampilkan terlebih dahulu.
  • Buat teman-teman yang ingin buat blog sendiri, kami juga menawarkan Hosting Gratis. So, buat yang pengen apply, silahkan pelajari lebih lanjut dengan membuka menu : Hosting Gratis pada menu di atas/

Mutiara 'Ilmu

asy-Syaikh Yahya bin Ali al-Hajuri berkata: "Di sebagian negara, ada di antara mereka yang memberikan kepada orang-orang yang sakit berupa hiburan-hiburan, baik itu dengan musik-musik di rumah sakit, atau televisi, atau permainan untuk menghibur mereka, dan ini demi Allah adalah kemudharatan bagi seseorang dan tidak bermanfaat bagi orang-orang yang sehat, tidak pula bagi orang yang sakit. Tidak boleh tolong-menolong dalam perkara dosa dan permusuhan, tidak bersama orang yang sehat dan tidak pula bersama orang yang sakit." (Berbahagialah Muslim Yang Sakit, penerjemah Abu Umar Urwah & Abu Muhammad Farhan, hal. 68. Tasjilat al-Ilmu Yogyakarta)
 
Gaul
Awalnya Lurus, Lalu Mencong PDF Print E-mail
User Rating: / 0
Written by Rizki Aji   
Friday, 25 December 2009
Dinamika kehidupan acapkali bersesuaian dengan perkembangan zaman. Dari masa ke masa selalu berubah-ubah tak pernah statis sisi lain kehidupan manusia. Segala sesuatu bisa menjadi dalih pembolehan dan pelarangan kala sendi tolok ukurnya bukan lagi dengan neraca syariat agama Islam yang mulia. Kebenaran semakin menjadi rancu, adakalanya kebenaran tertutup membisu karena kalahnya jumlah yang dominan bernama kebiasaan dan kewajaran. Kesalahan sejatinya tetap tidak bisa dibiarkan apatah lagi kesalahan tersebut semakin melebar karena banyaknya dukungan. Padahal sebagai seorang muslim, sikap dasar dalam memahami suatu kebenaran itu ialah dengan memahami serta mengetahui ajaran sebaik-baiknya melalui neraca syariat yang telah digariskan oleh Allah Ta’ala dan dilaksanakan dengan sempurna oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam beserta para sahabatnya. Sekali lagi, kebenaran acapkali kalah dengan banyaknya kesalahan yang mendapatkan dukungan dari faktor kewajaran dan kebiasaan.
Read more...
 
Senandung – Senandung Syaithan PDF Print E-mail
User Rating: / 0
Written by Didit Fitriawan   
Friday, 30 January 2009

Malam itu pendengarannku melayang cepat pada sederetan anak muda seusia denganku yang berjajar di ruang teras tetanggaku, yang mana sembari membawa gitar, mereka melantunkan senandung-senandung serta beberapa lagu yang sedang “top in” saat ini.

Aku tersenyum geli saat memandang dan mendengar suara mereka yang bukan lagi agak tetapi sangat sumbang namun dengan penuh semangat mereka bersorak sorai dalam bernyanyi. Mereka balas tersenyum padaku, kemudian kembali asyik medendangkan dan menggemerincingkan gitarnya dengan berbagai syair-syair cinta khas anak muda. Mulut mereka tak henti menyenandungkan bait-bait puitis yang barangkali seakan mereka bersiap menjadi penyanyi ternama kelas kampung…

Itulah sedikit gambaran yang terjadi pada sebagian besar para pemuda dan remaja di tanah air tercinta ini. Seakan mereka tidak dikatakan pemuda dan remaja jika mereka tak bias mendendangkan sebait syair bernada dan menyenandungkan lagu-lagu roman bernuansa cinta serta beralaskan pemujaan terhadap wanita. Tak lupa dalam benak dan keseharian mereka, gemerincing alat musik pun musti mengiringi indahnya lantunan lagu-lagu.

Maka secepat itu pula aku teringat kepada beberapa nasehat para ulama ahlus sunnah yang mereka guratkan dalam seraut tulisan dan ucapan pada kitab-kitab mulia mereka…bersangkutan dengan nyanyian, lagu dan atau musik…

Last Updated ( Friday, 30 January 2009 )
Read more...
 
Masih Pake Celana Pendek? PDF Print E-mail
User Rating: / 0
Written by Rizki Aji   
Thursday, 11 December 2008
Tentunya kamu sering deh nemuin mereka-mereka yang telah memasuki usia dewasa ataupun usia paruh baya pake celana pendek saat bepergian kemana-mana. Mereka sih bilang ngakunya Islam dan waktu sekolah pernah dapet pelajaran agama Islam. Pastinya dong di pelajaran itu ada materi pentingnya menutup aurat atau menjaga aurat. Namun faktanya berbicara, di kota besar sekelas ibukota negara yang klaimnya punya peradaban lebih maju ternyata eh ternyata malah kebalikannya lho dengan penduduk desa. Kalo di desa justru para bapak-bapak atau mereka yang menginjak usia dewasa ngerasa risih kemana-mana bepergian dengan menggunakan celana pendek seperti bendera berkabung alias setengah tiang. Bahkan hingga pergi kesawah pun kebanyakan lebih suka pake celana sebetis dibanding pake celana pendek.
Last Updated ( Monday, 22 December 2008 )
Read more...
 
Jangan Jadi Selebritis! PDF Print E-mail
User Rating: / 0
Written by Rizki Aji   
Tuesday, 06 May 2008

 

Jangan berfikir bahwa menjadi selebritis itu enak!, justru lebih banyak gak enaknya dibandingin enaknya. Jika kita melihat bahwa menjadi seleb itu penuh dengan kecukupan atas segala hal, eiiitss tunggu dulu... pandangan seperti ini mesti ditinjau ulang lagi. Karena bukan adanya sebuah istilah atau ungkapan seleb juga manusia tapi lebih dari itu. Dan kamu mesti tw kalo yang enak-enak itu belum tentu benar melainkan hanya sekedar pembenaran.

Last Updated ( Tuesday, 06 May 2008 )
Read more...
 
Nge-plong Saat Nongkrong PDF Print E-mail
User Rating: / 0
Written by Rizki Aji   
Friday, 25 April 2008

Dimanapun anda berada dalam belahan bumi Indonesia, udah bukan jadi barang tabu lagi dengan ucapan nongkrong, sebenernya ada banyak istilah yang mengiringi pengucapan nongkrong. Bisa jadi disebut kongkow, bisa juga disebut macem-macem istilah lainnya coz ga ada standar baku yang mengatur ucapan hal ini.

Last Updated ( Friday, 25 April 2008 )
Read more...