|
Written by Andita SB
|
|
Wednesday, 26 March 2008 |
|
Tabah, bijak, dan lurus pemikirannya. Semua orang bahkan memuji keindahan akhlaqnya. Siapa dia?
Beliau adalah Rumaisha’ Ummu Sulaim binti Malhan yang terkenal dengan panggilan Ummu Sulaim, ibunda Anas bin Malik. Sebagai seorang istri dari Malik bin Nadhar, beliau memiliki sifat keibuan di samping cantik.
Ketika cahaya kenabian mulai terbit dan dakwah tauhid mulai muncul sehingga menyebabkan orang-orang yang berakal sehat dan memiliki fitrah yang lurus untuk bersegera masuk Islam. Sebagai salah satu golongan yang pertama masuk Islam dari golongan Anshar, ia tak mempedulikan segala kemungkinan yang akan menimpanya di tengah masyarakat jahiliyyah penyembah berhala yang telah beliau buang tanpa ragu.
|
|
Last Updated ( Thursday, 12 June 2008 )
|
|
Read more...
|
|
|
Written by Andita SB
|
|
Wednesday, 26 March 2008 |
|
Ada pesan singkat melalui telepon seluler dari seorang istri untuk suaminya tercinta, “Say…, sebenarnya anak kita yang satu itu memang wataknya keras tapi hatinya selembut sutra.”
Sebelumnya, sang anak menangis tersedu-sedu ketika namanya tak disebut sama sekali dalam pesan singkat dari sang ayah, beda dengan saudaranya yang lain, disebut satu persatu. Ada apa gerangan? Ternyata, sang anak merasa diperlakukan tidak adil dengan saudaranya yang lain. Sang ayah, versi si anak lebih care dengan saudaranya yang lain ketimbang dirinya.
|
|
Last Updated ( Thursday, 12 June 2008 )
|
|
Read more...
|
|
|
Dan Rabbmu, Agungkanlah...!!! |
|
Written by Andita SB
|
|
Monday, 24 March 2008 |
|
Di masjid Khaif, Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri ketika itu. Tempatnya di Mina. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memandang ribuan jama’ah yang datang untuk berhaji. Kemudian lisannya yang tidak pernah berdusta itu menyebutkan pujian kepada Allah, lalu memulai khutbahnya. “Wahai manusia,” sabda Rasulullah, “Dengarkan penjelasanku baik-baik, karena aku tidak tahu apakah aku masih berjumpa lagi dengan kalian di tempat ini pada tahun yang akan datang.” Bergetar suara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengucapkan kalimat itu. Ada isyarat perpisahan yang membuat para shahabat tak kuasa menahan air matanya. Mereka menangis. Mereka tak sanggup menahan kesedihan. Rasanya, tak lama lagi sahabat terbaik dan Nabi yang penuh kemuliaan itu akan pergi menghadap Allah ‘azza wa jalla. Karena itu, siapapun yang peka hatinya akan terisak disertai linangan air mata.
|
|
Last Updated ( Wednesday, 23 April 2008 )
|
|
Read more...
|
|
|
|
<< Start < Prev 11 12 13 14 15 Next > End >>
|
| Results 113 - 117 of 117 |