|
Written by Andita SB
|
|
Saturday, 05 April 2008 |
|
Di antara fenomena yang merebak akhir-akhir ini adalah kebiasaan berdalih dengan pendapat mayoritas sebagai parameter kebenaran serta berdalih minoritas sebagai parameter kebathilan. Tidak itu saja, mereka pun berdalih pendapat nenek moyang tanpa meneliti sandarannya. Bahkan mereka menjadikan pendapat ‘Orang-Orang Kuat’ sebagai parameter kebenaran. Juga, mereka berdalih bahwa yang dianut orang-orang miskin itu bukan kebenaran. Malah tak sedikit di antara mereka yang mengikuti para ‘ulama fasik dan ahli ibadah yang jahil. Dan bukan hal yang aneh mereka pun menuduh ahli agama memiliki pemahaman yang sempit. Pendapat yang dianut oleh mayoritas mereka adalah kebenaran dan yang dianut oleh minoritas bukanlah kebenaran. Pendapat ini tentu saja tidak dapat dipertanggungjawabkan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang-orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan-Nya.” (QS. al-An’am : 116)
|
|
Last Updated ( Wednesday, 23 April 2008 )
|
|
Read more...
|
|
|
Written by Andita SB
|
|
Saturday, 05 April 2008 |
|
“Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari orang-orang Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah subhanahu wa ta’ala ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dan Allah subhanahu wa ta’ala menyediakan bagi mereka Surga-Surga yang mengalir sungai-sungai didalamnya, mereka kekal didalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. at-Taubah :100) Kita sering mendengar istilah ‘shahabat’ disebutkan dalam al-Qur’an maupun hadits. Hanya saja banyak yang belum tahu siapa saja yang didefinisikan sebagai shahabat. Hingga tak jarang terjadi kesalahpahaman bahkan berburuk sangka terhadap para shahabat yang mulia.
|
|
Last Updated ( Wednesday, 23 April 2008 )
|
|
Read more...
|
|
|
Written by Andita SB
|
|
Wednesday, 02 April 2008 |
|
Ada tiga macam rumah, rumah raja, rumah seorang hamba, dan rumah kosong yang tidak ada isinya. Rumah raja didalamnya terdapat simpanan harta, perbendaharaan dan kekayaan. Sementara rumah seorang hamba, didalamnya ada simpanan, perbendaharaan dan kekayaan namun tak sebanyak kekayaan seorang raja. Terakhir rumah kosong yang tidak ada isinya sama sekali. Kemudian datanglah seorang pencuri hendak mencuri di salah satu di antara tiga rumah tersebut, maka rumah mana yang akan dimasukinya Apabila anda menjawab, ia akan masuk rumah kosong, jelas mustahil karena rumah kosong tak ada barang yang bisa dicurinya. Karena itulah ketika dikatakan kepada Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, bahwa ada orang Yahudi mengklaim bahwa dia tidak pernah terganggu ketika shalat, maka Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata, “Apakah yang hendak dilakukan pencuri di rumah yang telah rusak?”
|
|
Last Updated ( Wednesday, 23 April 2008 )
|
|
Read more...
|
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>
|
| Results 57 - 64 of 86 |