|
Jangan Sesali Kehadirannya |
|
Written by M. Bahron
|
|
Friday, 18 April 2008 |
|
Di masa jahiliyah, memperoleh atau melahirkan anak perempuan merupakan aib atau sesuatu yang sangat memalukan, padahal Allah ta’ala mencela perbuatan orang-orang jahiliyah itu melalui firman-Nya, “Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)?. Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (QS. an-Nahl : 58-59)
|
|
Last Updated ( Wednesday, 23 April 2008 )
|
|
Read more...
|
|
|
Written by Andita SB
|
|
Thursday, 17 April 2008 |
|
Kubuka jendela di pagi hari. Kupandangi langit yang luas tak berbatas. Kuraba hati, kembali. Mencoba mengais apa yang tersisa dari perjalanan kalam batin, enam bulan terakhir ini. Betapa susahnya menyelami hati yang seluas langit itu. Hati pun punya ruangan tak terbatas. Segalanya menjadi satu dalam sebuah medan, menggumpal dan berdesakan lalu meletuplah aneka rasa. Gelisah, kesendirian, kesunyian, duka, lara, hampa, derita, bahagia, kangen, rindu, cinta, dan segala macam istilah; menggores cerita tak habis-habis. Berderai tak ubahnya mata langit yang meneteskan hujan. Masih sama, kalam batin ini tetap saja menjadi kutipan sejarah tentang seorang dirimu yang telah meniupkan nafas baru dalam perjalanan lelahku. Selama berbulan-bulan, kubertahan dengan menikmati apapun yang menjadi luapan hati, mencari-cari sedalam apa luapan itu menjelma menjadi tiga kata: gelisah, rindu, dan cinta. Meski menyiksa dan tetap memunculkan seribu tanya, tetap saja aku bersikukuh menjaganya dalam-dalam. Pagi membawa pesan-pesan baru dari semesta. Udara yang diam begitu indah menghadirkan bola matahari dengan kemuning sinarnya. Untung di teras rumah, ada dua batang pohon rindang yang menahan gerak laju teriknya. Semilir angin yang datang pun, terasa begitu menyejukkan. Benarkah pagi selalu menjadi tonggak baru dari sebuah awal yang indah atau sebaliknya?
|
|
Last Updated ( Wednesday, 23 April 2008 )
|
|
Read more...
|
|
|
Written by Andita SB
|
|
Monday, 14 April 2008 |
|
Dalam RAPBD sebuah propinsi, anggaran makan seorang gubernur untuk tahun 2006 bernilai ratusan juta bahkan milyaran rupiah. Konon lagi, anggaran jamuan makan siang kunjungan seorang presiden beberapa dekade lalu ke sebuah perguruan tinggi hanya untuk satu kali jamuan bernilai puluhan juta rupiah.
Atau dalam lingkup terkecil, keluarga misalnya, sederet makanan dan buah-buahan tersaji rapi di meja makan. Bahkan, untuk seorang pengusaha atau pejabat tertentu anggaran belanja harian bisa bernilai ratusan ribu rupiah.
Lain halnya dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebaik-baik manusia, padahal beliau seorang kepala negara. Unta yang penuh muatan tiada henti-hentinya datang kepada beliau. Emas dan perak selalu terhampar di hadapan beliau. Tahukah anda makanan dan minuman beliau? Apakah seperti hidangan seorang presiden atau gubernur? Atau lebih mewah dari itu? Ataukah seperti hidangan orang-orang kaya yang bergelimang harta? Atau menunya lebih lengkap dan lebih komplit?
|
|
Last Updated ( Wednesday, 23 April 2008 )
|
|
Read more...
|
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>
|
| Results 49 - 56 of 86 |